Sahabat Ilmu

Khamis, 23 Disember 2010

Kisah 22 soalan dapat dijawab, satu soalan takut dijawab

Salam,


Kisah ini diambil dari Mausu'ah al-Qishash al-Waqi'ah melalui internet, www.gesah.net yang diangkat dari http://mutiaraqaseh03.blogspot.com sebagai selingan ke arah mengajak kita berfikir dan melaksanakan tanggung jawab agama kita.Bacalah...

Ada seorang pemuda Arab yang baru saja menyelesaikan bangku kuliahnya di Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh Allah berupa pendidikan agama Islam bahkan dia mampu mendalaminya.

Selain belajar, dia juga seorang juru dakwah Islam. Ketika berada di Amerika, dia berkenalan dengan salah seorang Nasrani. Hubungan mereka semakin akrab, dengan harapan semoga Allah s.w.t. memberinya hidayah masuk Islam.

Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan di sebuah perkampungan di Amerika dan melintas dekat sebuah gereja yang terdapat di kampung tersebut.Temannya itu meminta agar dia turut masuk ke dalam gereja.

Mula mula dia keberatan, namun karena desakan akhirnya pemuda itu pun memenuhi permintaannya lalu ikut masuk ke dalam gereja dan duduk di salah satu bangku dengan hening,sebagaimana kebiasaan mereka.

Ketika paderi masuk, mereka serentak berdiri untuk memberikan penghormatan lantas kembali duduk. di saat itu, si paderi agak terbeliak ketika melihat kepada para hadirin dan berkata, "Di tengah kita ada seorang Muslim. Aku harap dia keluar dari sini." Pemuda Arab itu tidak bergerak dari tempatnya.

Paderi tersebut mengucapkan perkataan itu berkali-kali, namun dia tetap tidak bergerak dari tempatnya. Hingga akhirnya paderi itu berkata, "Aku minta dia keluar dari sini dan aku menjamin keselamatannya. "

Barulah pemuda ini beranjak keluar. Di ambang pintu, pemuda bertanya kepada sang paderi, "Bagaimana anda tahu bahwa saya seorang Muslim?"

Paderi itu menjawab, "Dari tanda yang terdapat di wajahmu." Kemudian dia beranjak hendak keluar. Namun, paderi ingin memanfaatkan keberadaan pemuda ini dengan mengajukan beberapa pertanyaan, tujuannya untuk memalukan pemuda tersebut dan sekaligus mengukuhkan ugamanya.

Pemuda Muslim itupun menerima tentangan debat tersebut. Paderi berkata, "Aku akan mengajukan kepada anda 22 pertanyaan dan anda harus menjawabnya dengan tepat."

Si pemuda tersenyum dan berkata, "Silakan!"

Sang paderi pun mulai bertanya, "Sebutkan 1 yang tiada 2nya, 2 yang tiada 3nya, 3 yang tiada 4nya, 4 yang tiada 5nya, 5 yang tiada 6nya, 6 yang tiada 7nya, 7 yang tiada 8nya, 8 yang tiada 9nya, 9 yang tiada 10 nya, sesuatu yang tidak lebih dari 10, 11 yang tiada 12nya, dua 12 yang tiada 13nya, 13 yang 14belasnya."

"Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh! Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa isinya? Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam surga? Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia tidak menyukainya? Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan tanpa ayah dan ibu!"

"Siapakah yang tercipta dari api, siapakah yang diazab dengan api dan siapakah yang terpelihara dari api? Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yang diazab dengan batu dan siapakah yang terpelihara dari batu?"

"Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap besar! Pohon apakah yang mempunyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan dan dua di bawah sinaran matahari?"

Mendengar pertanyaan tersebut, pemuda itu tersenyum dengan keyakinan kepada Allah. Setelah membaca Basmalah dia berkata, "

-1 yang tiada 2nya ialah Allah s.w.t.. -2 yang tiada 3nya ialah Malam dan Siang. Allah s.w.t. berfirman, "Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran kami)." (Al-Isra': 12). 3 yang tiada 4nya adalah kesilapan yang dilakukan Nabi Musa ketika Khidir menenggelamkan sampan, membunuh seorang anak kecil dan ketika menegakkan kembali dinding yang hampir roboh. -4 yang tiada 5nya adalah Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur'an. - 5 yang tiada 6nya ialah Solat 5 waktu.

-6 yang tiada 7nya ialah jumlah Hari ketika Allah s.w.t. menciptakan makhluk.-7 yang tiada 8nya ialah Langit yang tujuh lapis. Allah s.w.t. berfirman, "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang." (Al-Mulk: 3). -8 yang tiada 9nya ialah Malaikat pemikul Arsy ar-Rahman. Allah s.w.t. berfirman, "Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat men-junjung 'Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka." (Al-Haqah: 17).

-9 yang tiada 10nya adalah mu'jizat yang diberikan kepada Nabi Musa yaitu: tongkat, tangan yang bercahaya, angin topan, musim paceklik, katak, darah, kutu dan belalang.* -Sesuatu yang tidak lebih dari 10 ialah Kebaikan. Allah s.w.t. berfirman, "Barang siapa yang berbuat kebaikan maka untuknya 10 kali lipat." (Al-An'am: 160).-11 yang tiada 12nya ialah jumlah Saudara-Saudara Nabi Yusuf . -12 yang tiada 13nya ialah Mu'jizat Nabi Musa yang terdapat dalam firman Allah, "Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, 'Pukullah batu itu dengan tongkatmu.' Lalu memancarlah daripadanya 12 mata air." (Al-Baqarah: 60).

-13 yang tiada 14nya ialah jumlah Saudara Nabi Yusuf ditambah dengan ayah dan ibunya. -Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruh adalah waktu Subuh.Allah s.w.t. ber-firman, "Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai menyingsing. " (At-Takwir: 1) -Kuburan yang membawa isinya adalah Ikan yang menelan Nabi Yunus AS. -Mereka yang berdusta namun masuk ke dalam surga adalah saudara-saudara Nabi Yusuf, yakni ketika mereka berkata kepada ayahnya, "Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlumba-lumba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala. "

Setelah kedustaan terungkap, Yusuf berkata kepada mereka, " tak ada cercaan terhadap kamu semua." Dan ayah mereka Ya'qub berkata, "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Yusuf:9) -Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak Dia sukai adalah suara Keledai. Allah s.w.t. berfirman, "Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara keledai." (Luqman: 19).-Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapa dan ibu adalah Nabi Adam, Malaikat, Unta Nabi Shalih dan Kambing Nabi Ibrahim.

-Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diazab dengan api ialah Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim. Allah s.w.t. berfirman, "Wahai api dinginlah dan selamatkan Ibrahim." (Al-Anbiya': 69).-Makhluk yang terbuat dari batu adalah Unta Nabi Shalih, yang diazab dengan batu adalah tentara bergajah dan yang terpelihara dari batu adalah Ashabul Kahfi (penghuni gua). -Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalah Tipu Daya wanita, sebagaimana firman Allah s.w.t.? "Sesungguhnya tipu daya kaum wanita itu sangatlah besar." (Yusuf: 2 ).

-Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan 2 di bawah sinaran matahari maknanya: Pohon adalah Tahun, Ranting adalah Bulan, Daun adalah Hari dan Buahnya adalah Solat yang 5 waktu, 3 dikerjakan di malam hari dan 2 di siang hari."

Paderi dan para hadirin merasa takjub mendengar jawapan pemuda Muslim tersebut. Kemudian dia pun mula hendak pergi. Namun dia mengurungkan niatnya dan meminta kepada paderi agar menjawab satu pertanyaan saja. Permintaan ini disetujui oleh paderi. Pemuda ini berkata, "Apakah kunci surga itu?"

Mendengar pertanyaan itu lidah paderi menjadi kelu, hatinya diselimuti keraguan dan rupa wajahnya pun berubah. Dia berusaha menyembunyikan kekuatirannya, namun tidak berhasil. Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya agar menjawab pertanyaan tersebut, namun dia cuba mengelak.

Mereka berkata, "Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya dan semuanya dia jawab, sementara dia hanya memberi cuma satu pertanyaan namun anda tidak mampu menjawabnya? "

Paderi tersebut berkata, "Sesungguh aku tahu jawapannya, namun aku takut kalian marah." Mereka menjawab, "Kami akan jamin keselamatan anda. "

Paderi pun berkata, "Jawapannya ialah: 'Asyhadu An lah Ilaha Illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah".

Lantas paderi dan orang-orang yang hadir di gereja itu terus memeluk agama Islam. Sungguh Allah telah menganugerahkan kebaikan dan menjaga mereka dengan Islam melalui tangan seorang pemuda Muslim yang bertakwa.Ibnu Hasyim

Wassalam




















Kisah mayat duduk bersila

Salam,

http://www.simplyislam.com/images/products/53195.jpg

Sudah menjadi kebiasaan setiap malam Jumaat , akan diadakan bacaan surah Yasin di surau dan masjid di Malaysia. Ramai yang membaca tetapi tidak mengetahu kelebihan membaca Yasin. Penulis paparkan satu kisah bukan berkenaan orang membaca surah Yasin tetapi mayat yang membacanya. Ambillah pengajaran daripada kisah ini.

Ini adalah cerita benar yang telah diceritakan oleh pelajar-pelajar Malaysia di Arab Saudi.. Peristiwa ini baru saja berlaku dan disahkan benar oleh Ustaz Halim Naser penceramah bebas yang amat terkemuka di Malaysia. Ceritanya begini..
Pada suatu hari di musim haji yang lepas, pelajar Malaysia yang sama-sama menunaikan haji telah mengikut seorang arab untuk mengebumikan mayat seorang yang meninggal dunia pada musim haji.

Makam tersebut terletak di Ma'la iaitu tempat pengebumian para jemaah haji yang meninggal dunia di Mekah.

Cara yang mereka kebumikan mayat ialah dengan cara meninggalkan mayat dalam lubang yang disediakan dan menutupnya untuk kira-kira lapan bulan. Selepas lapan bulan, lubang itu akan dibuka semula untuk mengebumikan mayat yang baru.

Pada hari tersebut, apabila satu lubang dibuka untuk mengebumikan mayat yang baru, orang arab tersebut bertempiaran lari kerana dia nampak mayat sedang bersila, bukan tidur seperti kebiasaannya.

Penuntut Malaysia ini memberanikan diri merangkak ke dalam kubur tersebut untuk melihat dengan lebih jelas.

Hasilnya dia mendapati memang mayat tersebut sedang bersila dan mayat tersebut sedang membaca Al Quran, dan Al Quran tersebut memang yang asli. Selepas dilihat seterusnya. ayat Quran yang terbuka ialah Surah Yasin.

Satu lagi perkara ialah mayat tersebut tidak reput dan kain yang membalutinya juga tidak reput. Yang reput hanyalah kapas yang diletakkan di antara mayat dengan kain kapan (kain ehram).

Setelah dibuat kajian, rupa-rupanya mayat tersebut ialah mayat seorang negro yang kerjanya ialah membersihkan Baitullah daripada tumpahan air zam-zam.

Kerjanya tiada lain selain daripada membersihkan Baitullah jika ada tumpahan air zam-zam. Jika tiada tumpahan, dia akan duduk di satu sudut Baitullah dan membaca Surah Yasin.

Itulah kelebihanya bagi orang yang berbakti ke jalan Allah. Selepas peristiwa itu, lubang kubur itu pun di patri dan ditandakan agar tiada mayat lagi yang akan dikebumikan di situ.
Sebagai sumber renungan kita. Inilah bukti akan janji-janji Allah pada hambaNya yang taat dan ikhlas bekerja keranaNya.Aziziusus

Wassalam

Selasa, 21 Disember 2010

Perihal Faisal Tehrani....

Oleh Ustaz Mohd Aizam Masod( Penyelidik JAKIM)

Nampaknya penangkapan Syiah di Gombak baru-baru ini menyebabkan saudara Faisal Tehrani (FT) benar-benar kepanasan. Tulisan-tulisan beliau dalam blognya semakin merapu-rapu sehingga entri terbaru meminta supaya ASWJ mengkafirkan sahaja penganut Syiah di Malaysia. Kalau begitu bermakna, FT sendiri yang kafirkan Syiah. Tiada ulama ASWJ yang kafirkan Syiah secara mutlaq begitu. Hatta kerajaan Arab Saudi yang terkenal dengan fahaman keras mereka terhadap Syiah masih membenarkan penganut Syiah mengunjungi Kota Makkah dan Madinah untuk tujuan haji dan ziarah. Bermakna mereka masih menganggap Syiah itu muslim bukan KAFIR SEPERTI FATWA FAISAL TEHRANI.
Sebenarnya, penulis mendapat banyak pertanyaan berkenaan FT. Adakah FT seorang Syiah atau bagaimana? Untuk makluman para blogger dan seluruh penganut Ahli Sunnah Wal-Jamaah (ASWJ) di Malaysia, mesyuarat Panel Kajian Aqidah JAKIM kali ke-37/2008 telah memutuskan bahawa sememangnya terdapat unsur-unsur Syiah di dalam tulisan-tulisan FT.

Oleh itu, penulis ingin menegaskan supaya para blogger hendaklah berhati-hati jika membaca tulisan-tulisan karangan FT termasuk blognya. Sebagai contoh, dalam entri bersempena dengan sambutan Asyura dan Karbala, FT telah menulis di dalam blognya dengan menggunakan dalil-dalil dari kitab ASWJ kononnya amalan meratap sambil memukul muka dan dada terhadap kesyahidan Sayyidina Husain seperti yang dilakukan oleh puak Syiah adalah termasuk dalam ‘tradisi ASWJ.
Entri 3 bahagian yang bertajuk ‘Menangislah Ia Sunnah Nabi’, mengumpulkan hujjah-hujjah kononnya perbuatan ‘menangis’ seperti yang dilakukan oleh Syiah juga telah lama menjadi tradisi ASWJ. Nampaknya FT memang bijak memutarbelitkan dalil-dalil sunni dengan berhujjah di luar konteks serta menyalahtafsirkan maksud ‘menangis’. Apa yang menjadi masalah, FT tidak tahu membezakan antara maksud ‘menangis’ dan ‘meratap’ sedangkan kedua-duanya adalah istilah yang berbeza dalam sunnah Nabi. Sememangnya sunnah tidak melarang kita menangis atas kematian yang berlaku kerana itu fitrah, lebih-lebih lagi ketika menghadapi saat pertama menerima berita kematian seperti disebut oleh Baginda SAW ketika melihat seorang wanita menangisi kematian bayinya. Rasulullah SAW bersabda kepada wanita tersebut, “Bertaqwalah dan bersabarlah…sesungguhnya kesabaran itu pada awal kemalangan”. (Sahih Bukhari)
Hadith ini menunjukkan bahawa, walau sesedih mana sekalipun menerima berita kematian, umat Islam dianjurkan supaya bertaqwa dan bersabar bagi mengelakkan mereka melampau-lampau dalam menangis ketika di awal berlaku kematian kaum keluarga dan sebagainya. Malah Rasulullah SAW telah menunjukkan contoh teladan apabila menangisi kematian anaknya Ibrahim dalam keadaan penuh kesabaran. Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya mata itu mencucurkan air mata, dan hati bersedih, dan kita tidak mengatakan (memerintahkan/meyakini) kecuali apa-apa yang menjadi keredhaan Allah, dan sesungguhnya aku adalah orang yang bersedih dikeranakan perpisahanku dengan Ibrahim (puteraku).”
Inilah kaedah menangis yang dibenarkan di dalam Islam, bukan meratap yang dilarang secara tegas oleh Baginda SAW malah ia tidak pernah dilakukan oleh mana-mana kaum keluarga Nabi SAW. FT juga jangan jadi jahil (sedangkan anda adalah seorang sasterawan) beza antara ‘menangis’ dengan ‘meratap’ dalam bahasa Melayu.

Menurut Dewan Bahasa dan Pustaka ‘menangis @ tangis; bererti ‘pelahiran perasaan sedih (kecewa, menyesal dll) dgn mencucurkan air mata dan suara yg tersedu-sedu’ manakala ‘meratap @ ratap’ bererti ‘tangisan atau jeritan yg disertai kata-kata kerana terlalu sedih’ dan ‘meratap’ ialah ‘menangis sambil mengeluarkan kata-kata; mengeluh dgn menjerit dll’ (Sila rujuk Pusat Rujukan Persuratan Melayu DBP di laman http://prpm.dbp.gov.my/)

Meratap inilah yang dilarang di dalam Islam dan disebut di dalam hadith-hadith Nabi SAW sebagai ‘niyahah’. Al-Sunnah dengan jelas menyebut perbuatan meratapi si mati sehingga menampar-nampar muka dan dada, menyeksa diri dengan melukakan tubuh serta kepala adalah amalan jahiliyyah dan diharamkan berdasarkan kepada hadith Rasulullah SAW. Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan hadith daripada Ibnu Mas'ud r.a. bahawa Nabi SAW telah bersabda, “Bukan dari kalangan kami orang yang memukul-mukul pipi, mengoyak-ngoyak kolar baju dan menyeru dengan seruan jahiliyyah”. (Sahih Bukhari).

Diriwayatkan daripada Ummu Atiyyah r.a katanya: “Rasulullah SAW menerima janji dari kami pada waktu bai'ah iaitu ikrar setia, agar kami tidak meratapi mayat. Tidak ada wanita yang turut berbai'ah kecuali hanyalah lima orang iaitu Ummu Sulaim, Ummul Ala', anak perempuan Abu Sabrah iaitu isteri Mu'az atau puteri Abu Sabrah isteri kepada Mu'az". (Sahih Muslim)

Daripada Abu Malik al-Asy’ari bahawa Nabi SAW bersabda: “Ada empat perkara pada umatku yang termasuk perkara jahiliyah yang tidak mereka tinggalkan: Membanggakan kemuliaan orang tua nenek moyang, mencela nasab, istisqa (meminta hujan) dengan bintang, dan meratap.’ Dan Baginda SAW bersabda, ‘Wanita yang meratap, jika tidak bertaubat sebelum matinya, maka dia akan dibangkitkan pada hari Qiamat dengan memakai pakaian dari cairan tembaga dan gaun kudis’

Manakala riwayat daripada Sayyidah Aisyah r.a. yang menyebut bahawa beliau menampar wajahnya selepas kewafatan Rasulullah SAW tidak boleh sama sekali dijadikan hujjah kerana ia bukan hadith tetapi hanya athar sahabi. Apatah lagi apabila ia bertentangan dengan riwayat hadith sahih. Tambahan lagi dalam riwayat tersebut Sayyidah Aisyah menyebut di permulaannya: فَمِنْ سفهي وَحَدَاثَةِ سني bermaksud “dan kerana kejahilanku dan keremajaan umurku”. Ia menunjukkan bahawa Sayyidah Aisyah mengakui ia adalah satu kesilapan dan para ulama ASWJ berpendapat Sayyidah Aisyah telah bertaubat daripada kesilapan tersebut.
Akhirnya, memadailah dengan tiga hadith di atas sebagai dalil golongan ASWJ bahawa amalan meratap @ niyahah adalah dilarang oleh Rasulullah SAW dengan disertai janji azab di Hari Qiamat kelak bagi orang yang melakukannya. Kerana itu tiada ulama  ASWJ yang mengharuskannya apa lagi untuk melakukannya serta menjadikannya sebagai satu syiar seperti Syiah. Tidak mungkin FT tidak tahu bagaimana Syiah mengadakan upacara ma’tam bagi mengenang peristiwa Karbala. Ia dipenuhi dengan jerit tangis yang meratap-ratapi kesyahidan Sayyidina Husain. Malah ia dilagukan sambil memukul-mukul dada dan sebahagiannya menampar pipi, malah ada yang lebih dahsyat sehingga melukakan tubuh badan sendiri. Adakah seorang sasterawan seperti FT tidak tahu membezakan menangis biasa (buka’) dengan meratap (niyahah)? Adakah FT mahu mengatakan ini tradisi sunni? Maaf anda telah berbohong dengan pembohongan yang besar!!! Rasulullah SAW bersabda:

Daripada al-Mughirah r.a., beliau berkata: Aku mendengar Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya pembohongan ke atasku tidak seperti pembohongan ke atas orang lain, sesiapa yang berbohong atas namaku dengan sengaja, maka tersedialah tempatnya di dalam neraka. Aku mendengar Nabi SAW bersabda: Sesiapa yang diratapi atas kematiannya, dia diazab dengan apa yang diratapi atasnya”. (Sahih Bukhari).

Di kesempatan ini juga, penulis ingin menyeru semua pihak terutamanya ilmuan dan intelektual ASWJ termasuk Dr MAZA (yang baru-baru ini mengatakan keperluan berhujjah dgn ajaran menyeleweng bukan guna kuasa-walaupun bagi penulis penggunaan kuasa dan hujjah perlu berjalan sekaligus mengikut bidangkuasa masing2 berdasarkan hadith 'man ra'a minkum munkaran') supaya menjawab keraguan dan syubuhat-syubuhat yang dicetuskan oleh Syiah dari masa ke semasa. Semoga masyarakat Islam-ASWJ di Malaysia dipelihara Allah daripada segala bentuk bid'ah yang merosakkan kesucian aqidah dan syariah Islam.

Fatwa-Fatwa Ulama Syiah Mengenai Tradisi Melukai Diri di Hari Asyura

Ulama yang Telah Meninggal:

Ayatullah al-Uzma Sayyid Muhsin Hakim: Qamezani (pisau yang dipukul pada badan) bukanlah termasuk dalam amalan agama, apalagi dihukumi mustahab. Amalan ini memberi kesan buruk kepada Islam, umatnya dan Ahlul Bait (as).

Ayatullah al-Uzma Sayyid Abul Qasim al-Khui: Tidak ada satupun dalil Syar'i yang membolehkan Qamezani; tidak ada jalur periwayatan yang menghukumkan amalan itu sebagai mustahab (sunnah).

Ayatullah al-Uzma Sayyid Abul Hasan Esfahani: Penggunaan pisau, gendang, rantai dan Bouq (sejenis trompet dari tanduk) adalah haram dan bukan dari Syariat Islam.

Ayatullah al-Uzma Sayyid Muhsin Amin Jabal 'Amili: Qamezani dan apa saja peralatan penyambutan  Asyura (yang dapat menciderai) adalah haram menurut hukum akal dan syar’i. Mencederai dan melukai kepala bukan saja tidak memberi manfaat di dunia dan pahala di akhirat, bahkan ia menyakiti jiwa serta haram menurut hukum syar’i. Amalan ini juga menyebabkan Syiah dan Ahlul Bait menjadi jelak dalam pandangan orang. Mereka akan menganggap amalan ini sebagai tindakan biadab dan sadis. Tiada syak lagi bahawa amalan ini berasal dari bisikan Syaitan dan tidak mendatangkan keridhaan Allah, Rasulnya dan Ahlul Bait.

Ayatullah al-Uzma As-Syahid Sayyid Muhammad Baqir Sadr: Amalan ini adalah pekerjaan insan yang jahil dan para ulama sentiasa menghalangi dan mengharamkannya.

Ayatullah al-Uzma Fadhil Lankarani: Masalah Qamezani bukan saja tidak mendatangkan lebih banyak kesedihan dan kecintaan terhadap Imam Husain (as) dan matlamat suci beliau. Namun ia tidak diterima, bahkan ia memberikan hasil yang negatif secara rasional.

Ayatullah al-Uzma Shalehi Mazandarani: Dalam sumber Fiqh, Qamezani sama sekali tidak memberikan faedah apapun dalam Azadari Imam Husain (as).

Ayatullah As-Syahid Murtadha Mutahhari: Upacara ini meniru budaya Kristian Ortodok Caucasus.

Ayatullah Muhammad Jawad Mughniah: Upacara ini tidak sesuai dan Bid'ah menurut agama dan Mazhab.

Ayatullah Musykini: Perkara ini menimbulkan masalah menurut Syariat Islam. Bahkan ia mengandungi unsur-unsur haram dan umat Islam tidak boleh sekali-kali memasukkannya sebagai ibadah dalam berdukacita atas Imam Husain (as).

Ulama yang Masih Hidup:

Ayatullah al-Uzma Sayyid Ali Khamenei: Qamezani adalah budaya yang dibuat-buat (tidak memiliki hujjah); dan sama sekali tidak berkaitan dengan agama. Tidak diragukan lagi, Allah tidak meridhainya.

Ketika Komunis menjajah Azerbaijan-Soviet dahulu, semua peninggalan-peninggaln dan tradisi Islam di sana telah dihapuskan seperti masjid diubah fungsinya menjadi gudang. Majelis-majelis pertemuan dan Husainiyah ditukar menjadi gedung lain dan tidak ada satupun simbol agama Islam dan Syiah yang berbekas; kecuali Qamezani sahaja yang dibenarkan.... mengapa? Ini adalah cara mereka memerangi agama Islam dan Syiah. Kadang-kadang musuh menggunakan alasan seperti ini untuk menentang agama. Setiap unsur khurafat dimasukkan kedalam Islam supaya kemurnian Islam tercemar.

Ayatullah al-Uzma Jawadi Amuli: Tidak dibenarkan melakukan perkara yang menjadi penyebab ajaran Islam dihina dan kehormatan Islam dilecehkan; Qamezani dan amalan seperti  itu hendaklah dijauhi.

Ayatullah Makarim Syirazi: Metodologi Azadari hendakkah tidak memberi kesempatan kepada musuh Islam untuk menyalahgunakannya. Hendaklah acara besar ini tidak diperkecilkankan dan menyebabkan penghinaan kepada mazhab. Memukul badan dengan pisau atau rantai tajam hendaklah dijauhi.

Ayatullah al-Uzma Mazaheri Esfahani: Memukul badan dengan pisau dan semisalnya adalah haram.

Ayatullah al-Uzma Sayyid Kazim Haeri: Perkara khurafat seperti Qamezani menyebabkan Islam dan Syiah mendapat pencitraan buruk.

Ayatullah Nuri Hamdani: Peserta Azadari hendaklah sentiasa menyedari keburukan Qamezani di mana pihak musuh sentiasa memikirkan cara menjajah dan melemahkan umat Islam serta merusak Islam dari dalam. Semoga Allah membantu umat Islam.

Ayatullah al-Uzma Syaikh Muhammad Yaqubi: Tidak boleh melakukan amalan-amalan yang tidak logis, membahayakan diri, menyebabkan penghinaan terhadap agama dan Maktab Ahlul Bait (as)... Oleh itu wajiblah kita menjauhi amalan-amalan seperti Qamezani atau yang mencederai tubuh dengan alat-alat tajam.

Ayatullah Muhammad Mahdi Asfahi: Amalan-amalan ini memberi kesan negatif dalam penyampaian pesanan Asyura kepada khayalak ramai dan ia menyebabkan acara Husaini diremehkan.
SUMBER: http://www.abna.ir/data.asp?lang=12&id=217122

Pohon Fatwa Mengenai Ajaran Syiah

Negara Asal: Malaysia
Tahun: 1996
Rujukan: Jabatan Mufti Kerajaan Negeri Kelantan
 
1. Mesyuarat membincang pengaruh syiah dan kesannya kepada masyarakat Islam di negeri ini dimana ianya menjadi semakin hangat diperkatakan oleh semua pihak. Ini adalah kerana pengaruh syiah didapati semakin melebar pengaruhnya dikalangan masyarakat Melayu yang selamanya berpegang kepada ahli sunnah waljamaah.

Dinegeri Kelantan sungguhpun pengaruh syiah belum menonjol gerakannya, namun segelintir masyarakat Islam menjadi pemangkin kepada pembaikan ajaran syiah dan secara tidak disedari mereka terus menabur pengaruhnya menerusi berbagai saluran termasuk pergerakan siyasah dan sebagainya.

2. Mesyuarat juga mengkaji ancaman yang lahir dari gerakan syiah iaitu ancaman kepada akidah, syariat, akhlak dan seterusnya ancaman kepada umat dan negara dengan berpandukan sejarah peristiwa-peristiwa yang berlaku di negara-negara lain. Semuanya itu adalah gejala yang bakal dialami oleh umat islam sekiranya ajaran syiah berkembang dan mempunyai penganut yang besar jumlahnya suatu ketika nanti.

3. Mesyuarat dimaklumkan bahawa dalam bulan November 1992, urusetia Dewan Syura Majlis Agama Islam Kelantan pernah menganjurkan ijtima’ khas ulama’ bagi membincang masalah syiah dimana satu kertas kerja berjudul Pengaruh Syiah Dan Kesannya Kepada Masyarakat Islam dibentang dalam ijtima’ tersebut. Pada 3 Mei 1996 Jawatankuasa Fatwa Kebangsaaan bagi Hal Ehwal Islam Malaysia telah mengadakan muzakarah khas di Pulau Langkawi bagi membincang masalah yang sama dan berhasil mengeluarkan keputusan mengenainya.

Ini menunjukkan bahawa pihak berkuasa agama memandang serius terhadap perkembangan syiah di negara ini dimana ianya akan menimbulkan masalah besar jika kegiatannya tidak dibendung dengan segera.

Jawapan:

Setelah berbincang dengan terperinci, mesyuarat bersetuju membuat keputusan sebagaimana berikut:-

(1) Bersetuju dengan keputusan muzakarah khas Jawatankuasa Fatwa Majlis kebangsaan supaya keputusan muzakarah khas jawatankuasa fatwa yang telah diadakan pada 24 dan 25 September 1984 (kertas bilangan 2/8/84, perkara 4.2(2)) mengenai aliran syiah yang menetapkan seperti berikut: ( setelah berbincang dan menimbang kertas kerja ini jawatankuasa telah mengambil keputusan bahawanya mazhab syiah dari golongan الزيدية dan جعرفية sahaja yang diterima untuk diamalkan di Malaysia) dimansuhkan.

(2) Menetapkan bahawa umat Islam di Kelantan hendaklah hanya mengikut ajaran Islam yang berasaskan pegangan ahli sunnah waljamaah dari segi akidah, syariat dan akhlak. Ini adalah kerana ajaran syiah jelas menyeleweng dari segi akidah, syariat dan akhlak sebagaimana contoh-contoh berikut:-

(i) Penyelewengan akidah
(1) محمد بن يعقوب الكليني meriwayatkan dalam usul al-kafi dari Abi Abdullah kata beliau, ( sesungguhnya dunia dan akhirat adalah kepunyaan imam. Dia boleh meletakkannya dimana dikehendakinya dan memberikan kepada sesiapa yang dikehendakinya. Ini adalah satu kebenaran dari pihak Allah kepadanya ( الكافي, jilid 1, halaman 409). Bab dunia ini semuanya kepunyaan imam, sedangkan Allah berfirman didalam Al-Quran (إن الأرض لله يورثها من يشاء من عباده) (الاعراف، اية 128) yang bermaksud: (sesungguhnya bumi ini kepunyaan Allah diberikan kepada sesiapa yang dikehendakinya dari hamba-hambanya. Allah berfirman lagi ( له ملك السموات والأرض) ( الحديد، اية 2) yang bermaksud ( kepunyaannyalah kerajaan langit dan bumi);

(2) Imam adalah pangkat tertinggi, bahkan menjadi salah satu rukun iman;

(3) Imam adalah ma’sum, tidak melakukan sebarang dosa-dosa baik dosa kecil atau dosa besar;

(4) Imam masih mendapat wahyu dari tuhan dan mewarisi pangkat nabi;

(5) Mempertikaikan kesempurnaan Al-Quran.

(ii) Penyelewengan syariah

(1) Golongan syiah juga tidak memandang berat terhadap sembahyang, zakat dan haji kerana mereka ada meriwayatkan daripada Jaafar Sadiq bahawa beliau berkata, (sesungguhnya Allah menghindarkan azab dan kebinasaan daripada orang yang tidak bersembahyang dari kalangan kita dengan orang yang bersembahyang daripada syiah kita.

Dan sesungguhnya Allah menghindarkan (azab dan seksaan) daripada syiah yang tidak mengeluarkan zakat dengan syiah kita yang mengeluarkan zakat, dan sesungguhnya Allah menolak azab dan siksaan daripada syiah kita yang tidak mengerjakannya.( تفسير القمي, jilid 1 halaman 83, 84, تفسير العياشي jilid 1, halaman 135). Mereka tidak memandang berat terhadap sembahyang, zakat dan haji kerana dengan adanya segolongan daripada orang yang mengerjakan sembahyang dan menunaikan haji dianggap sudah mencukupi;

(2) Menghalalkan perkahwinan mutaah. Untuk menggalakkan amalan tersebut, golongan syiah mereka hadis-hadis palsu yang disandarkan kepada imam dua belas mereka. Antara hadis tersebut, Rasulullah (S.A.W) bersabda: Barangsiapa keluar dari dunia ini dalam keadaan tidak pernah melakukan kahwin mutaah dia akan datang pada hari akhirat dalam keadaan rumpung. Dalam kitab تهذيب الاحكام, jilid 7, halaman 254 ada menyebut bahawa kahwin mutaah tidak memerlukan saksi, wali dan perisytiharan.

(iii) Penyelewengan akhlak
Golongan syiah dan orang-orang yang diracuni fikirannya oleh fahaman syiah bersifat biadap terhadap nabi-nabi dan rasul-rasul dengan berpegang kepada riwayat daripada ملا باقر المجلسي dalam kitabnya بحار الانوار (secara dusta) daripada nabi (S.A.W) bahawa nabi berkata kepada Ali ( wahai Ali, engkau memiliki apa yang tidak dimiliki olehku. Fatimah isterimu, sedangkan aku tidak mempunyai isteri yang seumpamanya. Daripadanya engkau memperolehi dua orang anak lelaki yang mana tidak ada bagiku dua orang anak lelaki seumpamanya. Khadijah pula ibu mertuamu sedangkan aku tidak mempunyai ibu mertua yang penyayang seumpamanya. Aku sendiri bapa mertuamu sedangkan aku sendiri tidak mempunyai bapa mertua yang penyayang seperti bapa mertuamu.

Jaafar adalah saudaramu sedangkan aku tidak mempunyai saudara seumpama Jaafar. Fatimah Al-Hasyimiah adalah ibumu dimana aku tidak mendapat ibu seumpamanya. (كتاب بحار الانوار، كتاب الشهادة jilid 5, halaman 511.)
الكليني menyebutkan bahawa darjah imamah adalah lebih tinggi dari darjah kenabian, kerasulan dan khalah Allah. Untuk maksud ini dia (الكليني) telah berdusta atas nama Jaafar Sodiq bahawa beliau berkata sesungguhnya Allah menjadikan Ibrahim sebagai hamba sebelum menjadikannya sebagai rasul, dan sesungguhnya Allah telah menjadikannya rasul sebelum menjadikannya khalil dan sesungguhnya Allah menjadikannya sebagai khalil sebelum menjadikannya sebagai imam. ( كتاب الحجة من الكافي, jilid 1, halaman 175)

(3) Menyokong dan menerima cadangan Pindaan Perlembagaan Persekutuan dan Perlembangan negeri-negeri bagi memperuntukkan dengan nyata bahawa agama bagi Persekutuan dan negeri-negeri hendaklah agama Islam yang berasaskan pegangan ahli sunnah waljamaah dari segi akidah, syariah dan akhlak.

(4) Memperakukan pindaan kepada semua undang-undang negeri yang berhubungan dengan hukum syara’ bagi menyelaraskan ta’rif (hukum syara’) atau (undang-undang Islam) seperti berikut:
( hukum syara’) atau (Undang-undang Islam) ertinya undang-undang Islam yang berasaskan pegangan ahli sunnah waljamaah dari segi akidah, syariah dan akhlak.

(5) Memperakukan bahawa ajaran Islam yang lain daripada pegangan ahli sunnah waljamaah adalah bercanggah dengan hukum syara’ dan undang-undang Islam; dan dengan demikian penyebaran apa-apa ajaran yang lain daripada pegangan ahli sunnah waljamaah adalah dilarang.

(6) Menetapkan bahawa semua umat Islam di negeri ini adalah tertakluk kepada undang-undang Islam dan hukum syara’ yang berasaskan pegangan kepada ajaran ahli sunnah waljamaah sahaja.

(7) Menetapkan bahawa penerbitan, penyiaran dan penyebaran apa-apa buku, risalah, filem, video dan lain-lain yang berkaitan dengan ajaran Islam yang bertentangan dengan pegangan ahli sunnah waljamaah adalah diharamkan.

Mesyuarat meminta supaya urusetia berusaha mendapatkan kitab-kitab rujukan mengenai syiah dari Ustaz Muhammad Asri bin Yusuf, penulis kertas kerja ( Pengaruh Syiah dan Kesannya Kepada Masyarakat Islam) untuk rujukan ahli jamaah ulama’ majlis.

MANUSIA CERDIK IALAH MEREKA YANG MENGINGATI MATI

Oleh: Tuan Guru Nik Aziz Nik Mat

TIDAK seorang pun yang sudi digolongkan sebagai orang yang jahil atau bebal, sebaliknya masing-masing ingin dipandang sebagai orang yang bijak dan cerdik. Sekalipun mereka tidak berusaha untuk melayakkan dirinya untuk digolongkan sebagai manusia bijak dan cerdik, malah tidak kurang juga orang yang berlagak bijak meskipun dia sebenarnya adalah sebaliknya.

Ada orang yang mengukur kebijaksanaan seseorang itu berdasarkan ijazah yang dimiliki, kerana orang yang lulus dalam sesuatu pepereksaan hingga melayakkan mereka menerima ijazah itu, adalah bukti bahawa dia seorang yang bijak. Si jahil adalah mustahil boleh mencapai segulung ijazah, kecuali dia telah berusaha membuang kejahilannya dengan belajar bersungguh-sungguh.

Tidak dinafikan orang yang memiliki ijazah adalah orang yang bijak, tetapi tidak pula bererti orang yang tidak memiliki ijazah itu tidak bijak, kerana jika ditinjau dari kacamata Islam bahawa orang yang beriman itu lebih bijak dari orang yang tidak beriman. Orang yang beriman dianggap bijak oleh Islam kerana mereka mengetahui tentang Allah yang Maha Esa, mengetahui rahsia disebalik alam barzakh. dan seterusnya mengetahui alam akhirat kekayaan dari harta negara dengan memperalatkan kekuasaan yang dimiliki, untuk kepentingan diri dan kelompoknya.

Rasulullah S.A.W. bersabda yang bermaksud: "Peniaga yang amanah akan bersama para malaikat yang mulia di akhirat kelak." dan pada hadith yang lain disebut: "Peniaga yang amanah akan bersamaku (Rasulullah) di dalam syurga."

Natijah dari banyak mengingati mati itu akan melahirkan manusia yang berdisiplin tinggi, berakhlak mulia, tidak gentar menghadapi ancaman manusia, kerana dia tidak takut selain kepada Allah Taala. Dia berani menyatakan kebenaran meskipun seorang diri, kerana kebenaran itu adalah dari Allah Taala, justeru tidak ada sesuatu yang meragukan dia.

Orang yang mengingati mati akan sentiasa berusaha menambahkan ilmu terutamanya tentang ilmu yang berhubung dengan Allah Taala, kerana asas kepada keimanan ialah ilmu. Sebab itulah Allah Taala berjanji akan mengangkat darjat orang yang berilmu sebagaimana firman-Allah SWT:

11. Wahai orang-orang Yang beriman! apabila diminta kepada kamu memberi lapang dari tempat duduk kamu (untuk orang lain) maka lapangkanlah seboleh-bolehnya supaya Allah melapangkan (segala halnya) untuk kamu. dan apabila diminta kamu bangun maka bangunlah, supaya Allah meninggikan darjat orang-orang Yang beriman di antara kamu, dan orang-orang Yang diberi ilmu pengetahuan ugama (dari kalangan kamu) - beberapa darjat. dan (ingatlah), Allah Maha mendalam pengetahuannya tentang apa Yang kamu lakukan.
(Surah al-Mujadilah ayat 11)

Allah Taala mengangkat derajat orang beriman dan berilmu pengetahuan kerana mereka mempunyai asas yang kukuh untuk unggul ketaqwaannya, berdasarkan bahawa hati mereka sentiasa mengingati mati, sangat sensitif terhadap suruhan dan larang Allah, tidak mungkin mereka akan melanggar larangan Allah Taala, kerana meninggalkan kefardhuan dan melakukan kejahatan akan menyulitkan kehidupannya di alam barzakh dan di akhirat. Mereka sentiasa gementar hatinya terhadap ancaman Allah. Seperti firman Allah Taala yang bermaksud:

28. Dan demikian pula di antara manusia dan binatang-binatang Yang melata serta binatang-binatang ternak, ada Yang berlainan jenis dan warnanya? sebenarnya Yang menaruh bimbang dan takut (melanggar perintah) Allah dari kalangan hamba-hambaNya hanyalah orang-orang Yang berilmu. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, lagi Maha Pengampun.

Mengingati mati tidak akan menimbulkan kesan yang pasif atau negatif, sebagaimana anggapan setengah golongan orang yang tidak memahami hikmah di sebalik zikrul maut itu. Ramai orang jahil berkata, jika asyik ingat mati nescaya tidak akan membangun. Anggapan itu amat keliru kerana pembangunan masyarakat manusia tidak hanya pembangunan benda, kerana pembangunan benda tanpa pembangunan jiwa atau rohani pasti akan hancur binasa.

Dunia menyaksikan betapa kemajuan benda yang dihasilkan oleh kepakaran manusia, kemudiannya dihancurkan oleh tangan manusia sendiri. Los Angles sebuah bandaraya di Amerika musnah menjadi abu apabila manusia merusuh, ekoran dari rasa tidak puas hati terhadap sistem perundangan yang tidak menghasilkan keadilan seperti yang mereka harapkan, khususnya ketika membicarakan kes Rodney King.

Demikianlah nasib sebuah kotaraya yang disuburkan dengan tamaddun kekufuran, akibat sistem perundangan ciptaan manusia yang tidak berteraskan wahyu Ilahi, tanpa iman kepada Allah Taala, tiada kepercayaan kepada hari pembalasan, sebab itulah perundangan mereka tidak menjanjikan keadilan.

Andainya manusia membangun kebendaan dan kemudiannya tangan mereka sendiri pula yang meruntuhnya, sudah nyata mereka bukan golongan yang cerdik. Justeru orang yang bodoh dan dangkal saja yang membina tamaddun benda semata-mata yang tidak menjanjikan kebahagiaan, sebaliknya untuk mewarisi kesengsaraan.

Mengingati mati akan melunakkan hati yang keras, serta menjinakkan narsu yang ganas, umpama seekor harimau yang hilang garangnya apabila tali tas atau tali cemeti dipecutkan di hadapannya.

Apabila nafsu yang ganas telah ditundukkan, maka akan bertambah mudahlah usaha untuk membuat persiapan dan bekalan bagi menghadapi suatu kehidupan abadi selepas mati. Justeru nafsu yang ganas itulah yang selama ini menjadi penghalang, hendak menderma untuk kebajikan atau perjuangan menegakkan kalimah Allah tidak lagi keberatan kerana sifat bakhil yang didalangi oleh nafsu itu sudah ditundukkan.

Orang yang tidak pernah mengingati mati adalah orang yang dangkal ilmu pengetahuan dan lemah, terutama dalam aspek kerohanian. Golongan tersebut sering menjadi tunggangan kepada nafsunya sendiri, hidup dalam suasana lalai dan terpesona dengan kelazatan dunia yang bersifat sementara, sedangkan kesenangan akhirat itulah yang kekal. Jika ada manusia yang tidak memilih kebahagiaan yang kekal, nescaya mereka itu adalah terdiri dari orang-orang yang dungu.

Read more: http://www.pahangkini.net/rencana/agama/144-manusia-cerdik-ialah-mereka-yang-mengingati-mati#ixzz18iC0RHfy

Sifat-sifat Munafiq Menurut Hadis Nabi s.a.w.

 Sabda Nabi s.a.w. yang bermaksud :
 
“Empat sifat, siapa yang bersifat dengannya bererti ia seorang munafiq yang nyata, dan siapa yang mempunyai salah satu dari sifat-sifat itu bererti ia mempunyai satu sifat munafiq sehingga ia meninggalkan sifat itu iaitu : Apabila bercakap ia dusta, apabila berjanji ia mungkiri, apabila ia mematerikan perjanjian ia cabuli perjanjian itu dan apabila berbalah (bertengkar) ia sentiasa ingin menang.” (Riwayat oleh al’Syaikhan dari Ibn ‘Amr)

Huraianya :

Sifat munafiq ialah sifat-sifat hipokrit (seperti sejenis binatang sesumpah) atau sifat talam dua muka atau musang berbulu ayam atau berpura-pura jujur. Seorang yang munafiq ialah seorang yang berpura-pura baik dan jujur. Seorang yang bersifat telunjuk lurus kelingking berkait atau pepet di luar runcing di dalam. Ia bercakap manis tapi bohong. Ia pandai berbahasa sehingga orang boleh mempercayai percakapannya, ia pandai berjanji tapi mungkir, ia bijak mematerikan perjanjian tetapi ia cabuli dan apabila ia berbalah ia sentiasa ingin menang walaupun terpaksa menegakkan benang yang basah asalkan orang boleh percaya cakap dia, dia juga pandai bodek atau mengampu seseorang.

(Sumber diambil daripada : nurjeehan in Akhlak dan Adab, Aqidah, Hadis dan Pedoman, Hati, Kehidupan Sosial, Tafakur (Muhasabah).


Seorang yang munafiq ialah seorang manusia yang ada otak tapi tidak berpendirian, mudah menggadai pegangan hidup; dia ialah orang yang suka berbalah atau bertengkar. Dia boleh berubah-ubah sikap apabila diperlukan oleh kepentingannya.

Oleh kerana Islam memperjuangkan kejujuran dan amanah umum yang dilandaskan di atas kesedaran dan keimanan bahawa Allah itu Maha Melihat dan Maha Mengetahui segala apa yang terpendam di dalam lubuk hati, maka Islam menganggap sifat hipokrit itu sebagai merbahaya yang menghancurkan keutuhan dan keselamatan iman seseorang, juga sebagai dosa yang besar.

Hadis ini menyebut empat ragam sifat munafiq:

1. Khianat amanah iaitu mencabul dan mengkhianati amanah-amanah yang wajib dipelihara dan meremeh-temehkan amanah yang diberikan padanya atau tidak menunaikan tugas dan tanggungjawab dengan sebaik-baiknya yang diserahkan padanya, kerja dengan sambil lewa dan ia gunakan amanah yang diberikan kepadanya untuk mendapatkan kepentingan diri dan keluarganya.

2. Bercakap bohong. Membuat penjelasan, kenyataan dan penerangan yang dusta atau seakan-akan dusta samada dengan lisan atau tulisan, memutar belit dan memesongkan keterangan yang sebenar, mengubah dan menokok tambah kenyataan untuk disesuaikan dengan seleranya, membuat kempen-kempen atau promosi-promosi dusta dan propaganda liar dan segala bentuk penyelewengan kata-kata dan bicara termasuk membesarkan yang kecil dan memperkecilkan yang besar.

3. Mencabul janji-janji yang diikrarkan dan mencabul perjanjian yang dipersetujui bersama.

4. Ingin menang dalam pertengkaran walaupun terpaksa menegakkan benang yang basah atau terpaksa membawa saksi yang palsu bagi menguatkan hujahnya.

Semua sifat-sifat munafiq yang tersebut itu boleh menimbulkan kesan yang amat buruk kepada ketenteraman masyarakat manusia, malah boleh menimbulkan huru-hara dan perpecahan dan boleh menghilangkan rasa kepercayaan terhadap satu sama lain yang merupakan batu asas bagi kerukunan sesebuah masyarakat yang padu dan kukuh, selagi mana ada manusia serupa ini dunia ini tidak akan aman tenteram.

Nilai sebelaH sePatu

 
Pada suatu hari saya menaiki bas utk pulang kekampung. Saya masuk kedalam bas lebih awal sebelum bas bergerak dari stesen untuk mengelak kesesakan. Agak lama menunggu...akhirnya tibalah waktu bas bertolak. Driver bas sudah sedia berlepas dan apabila bas mulai bergerak tiba-tiba saya lihat ada seorang tua yg bergegas untuk menaiki bas yang sama. Orang tua tersebut berlari dan berjaya melepasi pintu yg hampir tertutup itu. Tetapi dalam kelam kabut itu, sepatu sebelah kaki kirinya tersangkut dan terjatuh sejurus sebelum pintu tertutup. Saya memerhatikan orang tua itu dari jauh, orang tua itu kelihatan tenang saja.
 
Apabila bas mulai bergerak orang tua itu dengan tenang mencampakkan sepatunya yang sebelah kanan melalui jendela dan beliau duduk disebelah saya dengan tenang sambil tersenyum. Saya pun menyapa orang tua itu ” Saya memerhatikan apa yg Pak Cik lakukan tadi, Mengapa Pak Cik melepaskan sepatu yang sebelah lagi?”. Dengan tenang Pak Cik tu menjawab ” Supaya sesiapa saja menemui sepatu aku itu dapat memanfaatkannya”.

Inilah peristiwa jiwa yang tenang, berpandangan jauh dan dipenuhi kerahmatan dan kekayaan. Pengalaman adalah guru terbaik dan jujur...fahamlah saya bahawa;

1.Jangan kita pertahankan sesuatu yang kita sahaja ingin memilikinya atau tidak mahu orang lain memilikinya.

2.Kita kehilangan banyak hal dalam hidup kita, tetapi seolah takdir tidak adil pada diri kita , namun ianya guru kepada kita supaya terang berfikir Positif, dapat diertikan supaya kita menjadi dewasa secara emosional dan spiritual.

3.Sedarlah bahawa pertukaran antara kehilangan sesuatu dan mendapatkan sesuatu harus terjadi. Seandainya tidak terjadi kehilangan maka mungkin tidak datang yg baru.

4.Tuhan telah menentukan bahawa, Itulah waktunya si tua itu sepatutnya melepaskan sepatunya dan nanti dia dapat mengantikannya dengan yg lebih baik.

5.Satu sepatu hilang adakah yg satu lagi itu bernilai...mungkin orang lain lebih memerlukannya...mungkin sepatu jadi sangat berharga bagi pengemis jalanan...si miskin

6.Berkeras mempertahankannya tidak menjadikan kita orang yang bijak atau menjadikan dunia ini lebih baik.Kita harus memutuskan bilakah sesuatu hal atau seseorang masuk dalam hidup kita atau bilakah kita lebih baik bersama-sama seseorang yg lain. Dan pada saatnya kita berupaya mengumpulkan keberanian untuk mlepaskannya.

Setiap ketentuan illahi pasti ada hikmah disebaliknya. Redhalah dengan ketenTuannYa kerana pasti kita beroleh rahmat dan "pertukaran" daripada sebuah kehilangan

Isnin, 20 Disember 2010

Wahai UMNO, baliklah kepada Islam

TUAN GURU NIK ABDUL AZIZ NIK MAT

Nampaknya isu Ketuanan Melayu masih menjadi ratib yang tidak henti-henti keluar dari mulut pimpinan UMNO. Peliknya tidak pula istilah ini disebut ketika Konvensyen BN 2010 yang lepas.  Adakah Ketuanan Melayu tidak boleh menembusi pintu Dewan San Choon, Wisma MCA di mana konvensyen itu berlangsung?

Ketuanan hendaklah kembali kepada Islam. Tidak dinafikan bahawa di negara ini majoriti umat Islam ialah berbangsa Melayu, ini sepatutnya menjadi satu kebanggaan bangsa Melayu sendiri yang sudah menerima Islam beratus-ratus tahun yang lampau. Bukankah Islam itu anugerah daripada Allah SWT? Firman-Nya (surah Ali-Imran ayat 19):
Maksudnya:  Sesungguhnya, ad-Din (agama yang benar) di sisi Allah hanyalah Islam.
Tidakkah hanya orang yang bertuah sahaja yang akan menerima anugerah daripada Allah SWT? Ini kerana Islam adalah anugerah, maka bertuah dan rahmatnya mereka yang dianugerahkan hidayah Islam. Firman Allah SWT (surah Ali-Imran ayat 164):
Bermaksud :  Sesungguhnya benar-benar Allah telah memberi kurnia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
Namun, dukacita sekali apabila ada orang yang tidak memanfaatkan anugerah itu, kerana menolak Islam. Ini berlaku di kalangan orang Melayu yang mendukung UMNO, kerana amalan UMNO itu sendiri yang berjuang menegakkan Ketuanan Melayu dan menolak Ketuanan Islam. Bila menolak Islam ertinya menolak anugerah daripada Allah SWT. Seolah-olah Islam ini bahan buangan yang tidak layak untuk diterima. Demikianlah barangkali tanggapan mereka yang mengenepikan Islam sebagai perundangan hidup mereka. Hari ini, seruan Islam yang menjadi tonggak orang Melayu ini diganti dengan nasionalis. Dengan slogan Ketuanan Melayu, mereka beria-ia menjulang keris tumpul itu kononnya merekalah pendekar sejati mempertahankan hak Melayu. Apa yang peliknya, di samping menjulang Ketuanan Melayu itulah, mereka telah terpalit dengan pelbagai tuduhan rasuah dan pecah amanah. Halalkah pelakuan rasuah ini di sisi mazhab Ketuanan Melayu?

Hakikatnya, apabila melaungkan Ketuanan Melayu, ia sudah dilihat sebagai mengenepikan Islam. Mengenepikan Islam bermakna tidak menerima asas-asas agama di dalam membela rakyat. Maka, tanpa memakai agama (Islam) orang Melayu hanya akan menjadikan bangsa yang hina, bukannya lebih mulia. Malah di dalam al-Quran sendiri Allah berfirman (surah Ali-Imran ayat 85):
Bermaksud:  Sesiapa yang mencari agama selain daripada agama Islam maka dia termasuk dalam golongan mereka yang rugi di akhirat nanti.
Layakkah pimpinan yang dilihat hina dan rugi itu menjadi tempat rakyat bergantung? Dalam konteks UMNO yang memerintah negara ini, dan apabila kepimpinan mereka asyik dengan Ketuanan Melayu (menolak Islam) musibah kepimpinannya bukan sahaja orang Melayu, bahkan orang bukan Melayu akan disembelih dengan slogan seperti ini. Apa yang berlaku di Kelantan adalah buktinya, tatkala Kelantan yang majoritinya bangsa Melayu, dinafikan peruntukan pembangunan dan royalti minyak oleh pemimpin yang bertunjangkan Ketuanan Melayu. Begitu pula, satu ketika (selepas pilihann raya 2008) kerajaan Pakatan Rakyat membahagi-bahagikan tanah untuk penduduk Cina dalam kampung baru di Perak, pemimpin UMNO begitu lantang menentang. Semacam orang Cina tak layak menerima milikan tanah. Malah belum lagi kita lupa, kerajaan Selangor ketika diperintah UMNO (sebelum 2008) pernah mengambil tindakan merobohkan kuil-kuil Hindu atas alasan pembinaan haram.

Kesemuanya adalah angkara perjuangan Ketuanan Melayu yang tidak relevan dan perjuangan yang sia-sia. Melayu tidak terjaga, Islam pun terlepas dari genggaman kerana Islam itu adalah agama untuk semua orang.
Demi menyedarkan rakyat tentang hakikat inilah, saya gagahi diri saya untuk terus berjuang memberikan kefahaman agar rakyat menerima Islam sebagai ad-Din (din dan daulah). Justeru itu, wahai UMNO, marilah balik kepada Islam sebagai penyelesaian yang sempurna, iaitu suatu penyelesaian yang datang daripada Allah SWT.  Ia sudah sempurna, tanpa cacat cela sedikitpun, jauh sama sekali dari sifat kehinaan.  Firman Allah SWT (surah al-An’am ayat 115):
Bermaksud :  Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. tidak ada yang dapat merobah robah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Akidah kita umat Islam, al-Quran ialah manual dari Allah SWT untuk manusia mentadbir dunia. Justeru, apabila terdapat beberapa orang Raja-raja Melayu yang menyuarakan kebimbangan berkenaan nasib orang Melayu, saya sarankan supaya marilah kita merujuk kepada al-Quran. Pada saya, Raja-raja Melayu berhak bimbang jika benar orang-orang Melayu terancam. Justeru marilah kita mencari penawar yang betul untuk penyakit yang dihidapi. Tidak guna jika menggunakan ubat yang salah, penyakit tidak sembuh bahkan semakin melarat. Dalam hal ini, Ketuanan Melayu ialah ubat yang salah bahkan ia sebenarnya racun yang bisa.

Al-Quran menyatakan bahawa sesuatu bangsa tidak mempunyai sebarang kelebihan ke atas  bangsa yang lain, yang melebihkannya hanyalah taqwa kepada Allah SWT. Renunglah sejenak sekali lagi firman Allah SWT (surah al-Hujurat ayat 13) :
Bermaksud:  Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
Kemuliaan tidak pernah bergantung kepada bangsa. Ia hanya wujud apabila sesuatu bangsa itu bertaqwa kepada Allah SWT. Bangsa Arab yang melakukan hampir kesemua jenis jenayah di dunia,  akhirnya menjadi mulia apabila menerima Islam. Jika bangsa Arab yang sedemikian jahil itupun dimuliakan Allah SWT dengan Islam, apa peliknya jika bangsa Melayu pun boleh dimuliakan oleh Allah SWT, syaratnya berpegang dengan Islam!

Justeru, bolehkah kiranya saya meletakkan harapan kepada pihak Raja-raja Melayu agar membawa rakyat kembali kepada Islam sebagai penyelesaian terhadap masalah yang berlaku? Yakinlah, dengan Islam, Melayu akan terbela. Alhamdulillah, di Kelantan, saya telah menerajui Kerajaan Negeri selama 20 tahun dengan tidak pernah menyebut Ketuanan Melayu, namun orang Melayu tetap terbela dan terjaga. Manakala al-Sultan Kelantan pula disayangi oleh semua kum di setiap pelusuk negeri. Kaum bukan Melayu pula tidak mempunyai sebarang masalah untuk berada di Kelantan. Bimbang saya andainya Ketuanan Melayu disebut-sebut dan diulang-ulang, ia hanya akan memarakkan rasa dendam dalam diam dan api membakar di dalam senyap.

Cuba kita semua ingat kembali, natijah amalan Ketuanan Melayu jugalah yang telah menghapuskan tulisan jawi di sekolah-sekolah satu ketika dahulu dan kesannya hari ini lahirnya generasi yang buta al-Quran. Jawi yang menjadi tulisan asal bahasa Melayu di’kebumikan’ secara hina berkafankan Ketuanan Melayu. Ketuanan Melayu jugalah yang menghapuskan bantuan perkapita untuk sekolah agama rakyat dan Ketuanan Melayulah yang bertanggungjawab terhadap terhakisnya tanah rezab Melayu di seluruh negara. Jenayah Ketuanan Melayu ini sebenarnya cukup panjang untuk ditulis. Ia menyimpulkan bahawa Ketuanan Melayu tidak membawa apa-apa faedah untuk negara hatta untuk bangsa Melayu sekalipun.

Marilah kita sama-sama mengingatkan satu sama lain tentang akhirat. Akhirat yang menjadi tempat tuju sama ada Melayu atau bukan Melayu. Ia khusus untuk Allah SWT membalas setiap perbuatan manusia. Justeru, kita diperintahkan mengulang-ulang peringatan ini beratus ribu kali sepanjang hidup kita melalui surah al-Fatihah yang menjadi bacaan wajib di dalam solat.  Tujuh ayat yang menjadi agenda utama hidup seorang muslim diulang baca sentiasa, dan satu daripada ialah peringatan tentang hari kiamat. Firman Allah (surah al-Fatihah ayat 4):
Bermaksud:  Yang menguasai di hari Pembalasan.
Yakinlah, tibanya kita di stesen yang bernama akhirat, Ketuanan Melayu tidak akan membawa apa-apa harga lagi di mahkamah Allah SWT!

Catusan di Wad 2, Hospital Universiti Sains Malaysia (HUSM) Kubang Kerian
6 Muharram 1432H/13 Disember 201M