Isnin, 31 Mei 2010

Ulama' Jahat dan Menyesatkan.

Amr bin al-Aash r.a. memberitakan bahwa dia telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud :

"Sesungguhnya Allah tidaklah akan mencabut agama dengan mencabut terus ilmu itu daripada para hambaNya, akan tetapi Dia akan mencabut ilmu itu dengan mematikan para ulama', sehingga apabila tiadalah tinggal lagi seorang alim, maka orang ramai pun menjadikan orang jahil sebagai pemimpin, maka mereka akan ditanyakan, lantas mereka akan berfatwa tanpa ilmu, lalu sesatlah mereka dan mereka menyesatkan."

HR: Al-Bukhari dan Muslim.

Pengajaran Hadith.

Hakikat ilmu ialah pengetahuan yang dimiliki dalam hati yang selalu diingat dan dapat dipergunakan secara mendadak bila perlu.
Para ulama' adalah gedung ilmu. Antara tanda hampirnya kiamat ialah Allah mematikan ulama'.
Sekiranya orang-orang yang jahil agama menjadi pemimpin dan berani berfatwa, maka sesatlah negara dan ummah.

Ahad, 30 Mei 2010

Hukum Menyembuyikan Ilmu Agama

Dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 159-160 disebutkan yang artinya “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam al-kitab, mereka itu dilaknat Allah dan dilakna(pula) oleh semua makhluk yang bisa melaknat. Kecuali mereka yang telah bertaubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran, maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya, dan Akulah yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang”.

Adapun sebab turunnya ayat ini berkenaan dengan ahli kitab, tatkala mereka ditanya tentang apa yang ada dalam kitab mereka tentang kenabian Muhammad SAW, yang ternyata mereka menyembunyikannya dan tidak mau memberitakannya karena rasa dengki dan marah.

Imam As-Sayuthi dalam kitabnya Ad-Durrul Manstur dari Ibnu Abbas R.a bahwa Mu’adz Bin Jabal dan sebagian sahabat menanyakan kepada segolongan Pendeta Yahudi tentang sebagian isi taurat, kemudian mereka menyembunyikannya dan menolak untuk memberitakannya, kemudian turunlah ayat ini.
Apa kandungan hukum dalam ayat ini? Apakah ayat ini khusus berkenaan dengan para pendeta Yahudi dan Nasrani saja?
Ayat ini diturunkan berkenaan dengan ihwal ahli kitab dari pendeta-pendeta Yahudi dan Nasrani yang enggan memberitakan dan menyembunyikan sifat-sifat Nabi SAW sebagaimana yang disebutkan dalam sebab turunnya ayat ini, tetapi lebih luas ayat ini mengena kepada setiap orang yang menyembunyikan ayat-ayat Allah dan menyembunyikan hukum-hukum Agama, karena yang dipakai sebagaimana dikatakan oleh Ulama ‘Ushul adalah keumuman lafalnya, bukan kekhususan sebabnya. Sedangkan ayat-ayat in bersifat umum, menggunakan sighat isim maushul (Al-ladzina yaktumuna=mereka yang menyembunyikan). Oleh karena itu menunjukan arti umum.
Hal tersebut diperkuat juga dengan Hadist Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan al-Hakim “Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu, kemudian ia menyembunyikannya, maka ia pada hari kiamat nanti akan dikendalikan dengan kendali api neraka”

Dan juga para sahabat memahami ayat ini untuk arti umum, dan mereka orang-orang arab yang fasih yang menjadi pedoman umat dalam memahami Al-Quran, seperti yang dikatakan Abu Hurairah, r.a : “kalau seandainya tidak ada sebuah ayat dalam kitab Allah, tentu aku tidak akan menyampaikan kepada kalian satu hadist pun, kemudian ia membaca firman Allah “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk….dst.”

Yang menjdai pertanyaan selanjutnya bolehkah mengambil upah dari mengajar Al-Quran dan ilmu-ilmu agama?

Dalam Terjemahan Tafsir Ayat Ahkam As-Shabuni diterangkan sebagai berikut. Bahwa dengan berlandaskan ayat “Sesungguhnya orang-orang yang menyembuyikan apa telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk… dst.” itu, ulama berpendapat, bahwa mengambil upah dari mengajarkan Al-Quran dan ilmu agama lainnya, karena ayat ini menyuruh kaum muslimin untuk menyi'arkan ayat-ayat Allah dan ilmu agama dan dilarang menyembunyikannya. Dan seseorang tidak berhak mendapat upah atas pekerjaan yang menjadi kewajibannya, sebagaimana tidak berhaknya atas upah bagi seseorang yang mengerjakan Sholat, karena Sholat merupakan suatu amalan pendekatan diri kepada Allah dan sekaligus ibadah, oleh karena itu haram mengambil upah mengerjakan Sholat.

Akan tetapi, ulama Mutaakhirin setelah melihat kelengahan manusia dan hilangnya perhatian mereka terhadap pendidikan agama dan kecenderungannya terhadap urusan duniawi lebih besar, yang berakibat juga tidak ada perhatian untuk mempelajari kitabullah - Al-Quranul karim dan ilmu-ilmu agama maka praktis tiadalah pemelihara-pemelihara Al-Quran dan berbagai ilmu. Karena factor-faktor inilah para ulama Mutaakhirin memperkenankan mengambil upah (pengajar AL-Quran dan pengajar ilmu-ilmu agama lainnya), bahkan sebagaian mereka wajib memberikan upah kepada para pemelihara ilmu Agama. Tidaklah wakaf-wakaf diberikan hanyalah untuk maksud-maksud memelihara Al-Quran dan ilmu-ilmu agama, yang merupakakan sarana bagi terpeliharanya Al-Quran, sebagaimana difirmankan Allah dalam Q.S Al-Hijr ayat 9 : “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran dan sesungguhnya Kami pula yang memeliharanya”.

Hanya saja, As-Shabuni mendapatkan bahwa para ulama Muttaqadimin dari kalangan fuqaha, bahwa mereka sepakat atas haramnya upah yang diambil dari mengajar ilmu-ilmu agama karena mengajar itu ibadah sedang mengambil upah dari ibadah itu tidak boleh.

Pandangan As-Shabuni sendiri dalam menilai masalah ini, bahwa pandangan secara fiqih yang halus ini mengangkat derajat ilmu ke derajat ibadah, maka pandangan semacam ini patut diperhatikan. Namun ilmu-ilmu Syari’at hampir tidak diperhatikan lagi kendatipun fatwa ulama Mutaakhirin membolehkan mengambil upah dari mengajar Ilmu-ilmu Agama. Apalagi kalau kita mengambil pandangan para Ulama Mutaqaddimin yang melarang mengambill upah dari mengajar Ilmu Agama? Dengan begitu mungkin tidak aka nada orang yang mengajarkan dan belajar ilmu Agama dsb. Innalilahi Wa Innailaihi Raji’un. Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kemabali.

JIka kita tarik kesimpulannya dari ayat di atas adalah sebagai berikut:
1. Bahwa kaum Yahudi dan Nasrani menyembuyikan sifat-sifat Nabi SAW (dalam taurat dan Injil) untuk menghalang-halangi manusia beriman kepadanya.
2. Bahwa menyembunyikan ilmu itu mengkhianati amanah yang dibebankan kepada para ulama(yang mempunyai ilmu)
3. Bahwa menyiarkan ilmu dan menyampaikannya kepada umat manusia agar petunjuk Illahi merata adalah Wajib.
4. Bahwa barang siapa menyembunyikan ilmu tentang hukum-hukum agama akan dilaknat Allah dan semua makhluk yang bisa melaknat.
5. Bahwa taubat yang diterima tidaklah cukup dengan memohon ampunan saja, tapi harus disertai dengan perbaikan perbuatan dan ikhlas dalam beramal.

Hikmatu tasyri
Syari’at –Syari’at samawi telah datang untuk memberi petunjuk kepada umat manusia dan mengeluarannya dari kegelapan menuju cahaya. Sedang Islam meyuruh kita untuk mengajar orang-orang yang tidak mengerti, menunjukkan kepada mereka yang berada dalam kesesatan dan mengajaknya kepada (Agama) Allah, sehingga kelak di hari Kiamat tidak ada seseorang yang mengelak karena belum menerima dakwah.

Dan apa-apa yang diturunkan Allah SAW yang berisi petunjuk dan penerangan yang tidak lain semua itu hanya untuk kebaikan manusia dan memberi petunjuk kepada jalan yang benar. Sedangkan menyembunyikan ilmu dan tidak menyampaikannya kepada umat manusia, itu berarti telah menghalangi misi risalah, dimana Allah SWT mengutus nabi dan rosulnya semata-mata untuk maksud tersebut, dan juga berkhianat terhadap amanat yang telah dipikulkan di atas pundak para ulama, Allah SWT berfirman yang artinya “Dan ingatlah ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu) ‘hendaklah kamu menerangkannya (isi kitab itu) kepada manusia dan janganlah kamu menyembunyikannya’...” (Q.S Ali-Imron:187), maka Allah sangat ingkat terhadap orang yang menyembunyikan sesuatu yang dihajatkan untuk orang banyak, terutama urusan agama, serta memberikan ancaman siksa yang pedih bagi siapa saja yang menyembunyikan ayat-ayat Allah dan ilmu-ilmu agama, karena perbuatan tersebut merupakan dosa besar yang berhak mendapat laknat dari Allah SWT dan semua makhluk yang bisa melaknat dan dijauhkan dari rahmat Allah.
Dengan demikian, jelaslah bagi kita bahwa Islam adalah agama yang sempurna yang memberikan dorongan yang sangat besar untuk tersebarnya ilmu yaitu dengan menyampaikan dakwah kepada umat manusa, dan memerangi kebodohan dan kesesatan, dan Islam menilai menyiarkan ilmu termasuk ibadah, dan menyembuyikannya adalah berdosa. Rosulullah SAW telah bersabda “Sampaikanlah walapun hanya satu ayat” dan ia pun bersabda lagi “barang siapa ditanya mengenai suatu ilmu, kemudian ia menyembunyikannya, maka dia akan diberi kendali pada hari kiamat nanti dengan kendali api neraka”.

Wallahu’alam bi showab
Sumber : Terjemahan Tafsir Ayat Ahkam Ash-Shabuni (1)

http://lin-muthmainnah.blogspot.com

“SERANGAN PEMIKIRAN”; USAHA MEMBUNUH AQIDAH UMAT ISLAM!

“Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan redha kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikut agama mereka. Katakanlah, sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya). Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah” (Al-Baqarah; 120)

Menelusuri sirah perjuangan junjungan mulia, Rasulullah s.a.w dan para sahabat yang gigih berjuang untuk meninggikan kalimah Allah di muka bumi ini. Seluruh umat mengakui kebenaran yang dibawa oleh Baginda. Lantaran itu, kebenaran yang dibawa Baginda akhirnya telah berjaya membuka 2/3 dunia dan menjadikan dunia ini makmur dengan kesucian Islam yang diwhyukan oleh Allah kepada Rasulullah s.a.w. pernah satu ketika, khalifah Harun ar-Rasyid yang merupakan salah seorang khalifah di zaman Bani Abbasiyyah melihat gumpalan awan hitam, lalu Khalifah pun berkata, “Turunlah kamu wahai hujan di mana sahaja bumi yang kamu kehendaki, nescaya hasil bumi itu akan sampai kepada kami.”

Jika kita melihat dengan pandangan yang lebih jelas, kita dapat menyaksikan perjuangan meninggikan kalimah Allah itu didokongi oleh generasi muda yang bersemangat kental dan sihat akal fikirannya. Mereka ini tidak mengharapkan imbalan dunia kecuali redha Allah sahaja yang menjadi harapan mereka. Rasulullah s.a.w pernah bersabda di dalam sebuah hadis, mafhumnya;

“Aku berpesan kepada kamu supaya berbuat baik kepada pemuda, sesungguhnya hati mereka paling lembut. Sesungguhnya Allah telah mengutus aku membawa agama Hanafiah lalu para pemuda bergabung dengan aku dan orang-orang tua menentang aku.”

Hadis ini dibuktikan melalui lembaran sirah. Abu Jahal, Abu Lahab, Umayyah ibn Khalaf, mereka ini adalah golongan tua yang menjadi pembesar Quraisy ketika itu dan mereka jugalah yang menentang risalah Islam yang dibawa oleh Rasulullah s.a.w. Dan dikalangan mereka yang mendokong apa yang dibawa oleh Baginda s.a.w ialah Saiyyiduna Abu Bakar as-Siddiq, umurnya empat tahun lebih muda berbanding Rasulullah s.a.w, Saiyyiduna Umar al-Khattab, umurnya ketika memeluk Islam baru mencecah 30 tahun, Sayyidina Ali ibn Abi Talib yang baru mencecah belasan tahun ketika membantu misi hijrah Rasulullah ke Madinah. Ini membuktikan bahawasanya golongan muda merupakan pendokong risalah Islam yang dibawa oleh Baginda s.a.w.

Lantaran itu, masyarakat Yahudi dan Nasrani berasa tidak senang. Mereka berpandangan selagi golongan muda ini tidak cuba dijauhkan dari jalan Islam yang lurus maka selagi itulah mereka tidak mampu untuk menewaskan Islam. Maka bermulalah siri serangan dan pengkhianatan kepada umat Islam. Sehingga pada satu ketika mereka merasakan bahawa masyarakat Islam hanya mampu ditewaskan melalui siri serangan pemikiran yang berterusan. Mereka begitu berhasrat untuk menjauhkan golongan muda Islam khususnya dari mengikut landasan dan garis panduan Islam yang sebenar.

Menurut Dr Abdullah Nasih Ulwan di dalam karangannya yang berjudul “Generasi Muda Islam & Cabaran Globalisasi”, beliau telah membentangkan beberapa pernacangan jahat yang dibuat oleh Yahudi dan Nasrani laknatullah dalam usaha menyesatkan aqidah umat Islam dan memesongkan akhlak Islamiyyah yang diajar oleh Islam. Antara perancangan Salibiyyah yang dilakukan ialah merosakkan wanita Islam. Mereka cuba mempamerkan fesyen-fesyen kontemporari melalui media cetak dan elektronik dalam misi membunuh akhlak Islamiyyah di dalam diri wanita-wanita Islam. Mereka menjadikan wanita sebagai simbol seks apabila mengiklankan mereka dengan pakaian yang menjolok mata dan membiarkan tubuh-tubuh mereka yang sepatutnya ditutup ditatap oleh lelaki yang ajnabi.

Hal ini secara tidak sedar menjadi faktor dan penyumbang terpenting kepada berlakunya budaya dan gejala seks bebas. Mereka juga meracuni pemikiran wanita-wanita Islam dengan idealisme pembebasan wanita dengan menafikan apa yang telah digariskan oleh Islam. Mereka berusaha menonjolkan wanita barat denagn aneka kemajuan dan kebebasan, dan menonjolkan wanita Islam dengan pelbagai bentuk kemunduran dan ketinggalan zaman sehingga wanita Islam membebaskan diri daripada hijab, akhlak Islam dan cenderung kepada berhias dan kefasadan.

Salibiyyah laknatullah ini juga merosakkan umat Islam melalui arak, pementasan, pembebasan wanita bertujuan untuk memesongkan pemuda Islam khususnya daripada matlamat kehidupan mereka yang tinggi iaitu berjihad di jalan Alla. Begitu juga memalingkan mereka daripada memikul tanggungjawab menyampaikan dakwah dan membawa risalah Islam ke seluruh dunia.

Ayuh kita lihat perancangan yang dibuat oleh Yahudi Laknatullah pula. Yahudi telah mengiklankan perancangan serangan pemikiran di dalam protokol mereka adalah untuk merosakkan akidah, akal dan keperibadian manusia bahkan mereka telah melahirkan pemikiran, dasar-dasar Yahudi dan bukan Yahudi yang mengajak ke arah meruntuhkan akidah dan memusnahkan dasar-dasar akhlak yang mulia untuk mencapai matlamat dan melaksanakan perancangan mereka. Antaranya mereka menyokong teori Frued yang mentafsirkan semua perlakuan manusia adalah hasil daripada keinginan seks dan bertitik tolak daripada dorongan menikmati kelazatan syahwat. Mereka juga mendokonga teori Nature yang melenyapkan akhlak dan mengharuskan kepada manusia melakukan semua perkara yang boleh memberi kepuasan walaupun membunuh, menumpahkan darah atau menceroboh!

Di dalam protokol Yahudi kesembilan ada menyebut, “Kita perlu bekerja untuk meruntuhkan akhlak di segenap tempat. Ini akan memudahkan penguasaan kita ke atas mereka. Sesungguhnya Freud adalah bersama kita dan beliau akan terus mengemukakan teori perhubungan seks dengan jelas, sejelas sinaran matahari di siang hati supaya tidak ada lagi perkara yang mesti dihormati pada pandangan pemuda dan akan jadilah peranannya yang penting adalah memenuhi tuntutan itu.”

Maka sudah terang lagi bersuluh akan perancangan jahat Yahudi dan Kristian Salibiyyah Laknatullahi ‘alaihim. Mereka tidak berupaya melawan kekuatan umat Islam dalam siri peperanga bersenjata satu ketika dahulu. Lalu mereka mencari jalan untuk menyerang Islam dari sudut pandangan yang halus. Usaha mereka ini menemui hasil setelah umat Islam dilalaikan dengan agenda mereka. Mereka meruntuhkan akhlak dan nilai moral umat Islam atas tujuan yang satu iaitu melenyapkan aqidah umat Islam dari dada-dada manusia dan seterusnya mereka ingin melenyapkan Islam dari muka bumi ini.

Semoga Allah memelihara kita dari rancangan jahat kuffar Laknatullahi ‘alaihim. Akhirnya, marilah kita merenung kata-kata Saiyiduna Abu Bakar as-Siddiq, mafhumnya;

“Apakah agama ini akan berkurang (dihina) sedangkan aku masih hidup?”

http://ikhwan-alfathoni.blogspot.com/

Peringatan buat semua

Penyebab terbesar terjadi penyimpangan dari agama adalah timbul para ulama jahat yg memfatwakan sesuatu yg menyelisihi al-haq dlm keadaan mereka mengetahuinya.

Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Sesungguhnya Allah tdk mencabut ilmu secara langsung dari manusia tetapi mencabut dgn dimatikan para ulama. Sehingga ketika tdk tinggal seorang pun yg alim manusia mengambil pemimpin yg bodoh. Mereka dita lalu mereka berfatwa tanpa ilmu maka mereka pun sesat dan menyesatkan (orang lain).”

Dan hadits yg diriwayatkan oleh Abu Umayyah Al-Jumahi radiallahuanhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat ada tiga: di antara adl ilmu diambil dari orang2 kecil.” Al-Lalikai dlm ‘Ushul ‘Itiqad Ahlus Sunnah hadits hasan. Lihat Shahih Jami’ Bayanil ‘Ilmi hal. 201}

Berkata Nu’aim ketika dita Ibnul Mubarak: “Siapakah orang2 kecil?” Ia menjawab: “orang2 yg berpendapat dgn akalnya.”

Dan diriwayatkan oleh Anas bin Malik radiallahuanhu: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya: ‘Wahai Rasulullah bilakah kita meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar?’

Beliau menjawab: ‘Apabila telah nampak pada kalian apa yg telah nampak pada umat-umat sebelum kalian.’

Kami bertanya: ‘Wahai Rasulullah apa yg nampak pada umat ?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Kekuasaan dipegang oleh orang2 kecil di antara kalian, perbuatan keji dilakukan para pembesar kalian dan ilmu dimiliki oleh orang yg hina dari kalian.”

Syaitan dalam kehidupan manusia

MUKADDIMAH

Allah swt telah menyuruh kita menjadikan syaitan sebagai musuh. Firman Allah swt:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوّاً
Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), (6 : 35 al-Fatir)

Boleh kata semua manusia akan mengakui syaitan sebagai musuhnya. Namun tidak ramai yang mengetahui bagaimana cara untuk menghadapi syaitan dan manakah ruang-ruang yang mana syaitan akan masuk pada diri insan. Ini adalah sebahgian dari ruang-ruang yang perlu seorang manusia tutup agar syaitan tidak memperdayanya.

SYAITAN BERMALAM DI DALAM HIDUNG

إذا استيقظ أحدكم من منامه فليستنثر ثلاث مرات فإن الشيطان يبيت على خياشيمه
“ Apabila seseorang kamu bangun dari tidurnya hendaklah dia memasukkan dan mengeluarkan air dari hidungnya tiga kali. Sesungguhnya syaitan bermalam di dalam lubang hidungnya.” Hadis riwayat Bukhari dan Muslim

SYAITAN KENCING DI DALAM DUA TELINGA

Apabila diberitahu kepada Nabi saw tentang seorang lelaki yang tidak bangun tahajud dan bangun ketika watu sudah subuh. Nabi saw bersabda:

ذاك الرجل بال الشيطان في أذنيه
“ Lelaki itu telah dikencing syaitan di dua telinganya.” Hadis sahih Bukhari dan Muslim.

SYAITAN MASUK DALAM MULUT YANG TERBUKA MENGUAP

إذا تثائب أحدكم فليمسك بيده على فيه فإن الشيطان يدخل
“ Apabila seseorang menguap hendaklah dia menutup dengan tangannya. Sesungguhnhya syaitan masuk ke dalam mulutnya yang terbuka.” Hadis sahih Muslim.

SYAITAN KETAWA MELIHAT MANUSIA YANG BERKATA “AAAAAH “ SEMASA MENGUAP

Nabi saw bersabda:

ولا يقل آه آه فإن أحدكم إذا فتح فاه فإن الشيطان يضحك منه
“ Dan janganlah seseorang itu berkata “aaaaaaaa” semasa menguap. Syaitan akan ketawa bila dia membuka mulut semasa menguap.” Hadis riwayat Ahmad.

MEMAKI ORANG MEMBANTU SYAITAN UNTUK MEROSAKKAN MANUSIA

Seorang lelaki mencela seorang yang dikenakan hukuman sebat kerana minum arak. Nabi saw bersabda:

لا تقولوا هكذا لا تعينوا عليه الشيطان
“Janganlah kamu berkata sedemikian kepada orang yang dihukum. Janganlah kamu membantu merosakkan dia.” Hadis sahih Bukhari.

Moral: Oleh itu janganlah kita memaki walaupun orang yang sudah jelas kesalahannya. Memaki hamun dalam apa jua keadaa adalah dilarang. Mudah2an maki hamun yang ada pada ceramah, dakwah, shoutbox dan sebagainya dapat dielakkan.

SYAITAN TIDAK MASUK RUMAH YANG DIBACA SURAH BAQARAH

Nabi saw bersabda:

لا تجعلوا بيوتكم مقابر فإن الشيطان ينفر من البيت الذي تقرأ فيه سورة البقرة
“ Janganlah kamu jadikan rumah-rumah kamu sebagai kubur. Sesungguhnya syaitan akan lari dari rumah yang dibaca surah al-Baqarah.” Hadis sahih Muslim

Faedah: Siapa yang baru masuk rumah atau rumahnya diganggu maka digalakkan utuk dibaca surah al-Baqarah beramai2.

SYAITAN MAKAN DARI MAKANAN YANG TIDAK DIBACA BISMILLAH DAN BERMALAM PADA RUMAH YANG TIDAK DIMASUKI DENGAN BISMILLAH

إذا دخل الرجل بيته فذكر الله عند دخوله وعند طعامه قال الشيطان : لا مبيت لكم ولا عشاء وإذا دخل فلم يذكر الله عند دخوله قال الشيطان : أدركتم المبيت وإذا لم يذكر الله عند طعامه قال : أدركتم المبيت والعشاء
“ Apabila seorang lelaki memasuki rumahnya dan menyebut nama Allah semasa masuk dan menyebut nama Allah semasa makan. Syaitan akan berkata kepada kuncu2nya “Kamu tidak ada tempat bermalam dan tidak ada makan malam.” Apabila dia masuk kerumahnya tanpa menyebut nama Allah syaitan akan berkata “ Kamu semua mendapat tempat bermalam.” Apabila dia tidak menyebut nama Allah semasa makan , syaitan akan berkata “ Kamu mendapat makan malam dan tempat bermalam.” Hadis sahih Muslim (2018).

MAKANAN JATUH YG DIBIARKAN ADALAH HABUAN SYAITAN

إذا سقطت لقمة أحدكم فليمط عنها الأذى وليأكلها ولا يدعها للشيطان
“ Apabila jatuh sebahgian suapan makanan kamu. Hendaklah kamu buang kotoran yang melekat pada makanan dan hendaklah dia makan. Jangan biarkan ia dibiarkan untuk dimakan oleh syaitan.” Hadis sahih Muslim (2034)

SYAITAN PENGGANGGU SOLAT

Suatu hari Amru bin abi al-As mengadu Rasulullah saw:
“ Ya Rasulullah sesungguhnya syaitan telah mengganggu ku solat dan menimbulkan was-was dalam bacaanku.”

Rasulullah saw pun menjawab:

ذاك شيطان يقال له خنزب فإذا أحسسته فتعوذ بالله واتفل على يسارك ثلاثا
“ Itulah syaitan yang dipanggil khinzab. Apabila engkau merasai gangguannya hendaklah engkau minta perlindungan dari Allah dan ludah ke kirimu tiga kali.”

Amru berkata:
“Aku melakukan apa yang Rasulullah sarankan , lalu Allah menghilangkan segala gangguan syaitan tersebut.” Hadis sahih Muslim.

MINUM BERDIRI BERSAMA SYAITAN

Nabi saw bertanya kepada orang yang minum berdiri: “Adakah engkau suka minum bersama dengan kucing?”

Dia menjawab “Tidak”

Nabi saw bersabda:

قد شرب معك من هو شر منه الشيطان
“Sesungguhnya kamu telah minum dengan mahkluk yang lebih teruk dari kucing iaitu syaitan.” Hadis Ahmad –sahih.

SYAITAN SEMAKIN BESAR BILA DIMAKI

Seorang sahabat Nabi saw telah memaki syaitan apabila binatang tunggangannya terjatuh. Nabi saw bersabda:

لا تقل تعس الشيطان فإنك إذا قلت ذلك تعاظم حتى يكون مثل البيت ويقول : بقوتي ولكن قل : بسم الله فإنك إذا قلت ذلك تصاغر حتى يكون كالذباب
“ Janganlah kamu berkata “ Celaka syaitan.” Kalau kamu berkata begitu syaitan akan berasa besar diri seperti rumah dan berkata “ mendapat kekuatan ku.” , tapi hendaklah kamu berkata “ Dengan nama Allah.” Apabila berkata sedemikian syaitan akan jadi hina sehingga seperti lalat.” Hadis Abu daud (4982) – sanad sahih

PENUTUP
Terdapat ratusan lagi ruang-ruang syaitan utk memperdaya manusia seperti yang terdapat dalam hadis2 Nabi saw. Ini adalah sebahgian yang saya sempat tulis. Ingatlah bahawa syaitan akan cuba menyesatkan manusia selagi nyawa manusia itu dikandung badannya. Rasulullah saw bersabda:

إن الشيطان قال : وعزتك يا رب لا أبرح أغوي عبادك ما دامت أرواحهم في أجسادهم. قال الرب : وعزتي وجلالي لا أزال أغفر لهم ما استغفروني
“ Sesungguhnya syaitan berkata “ Demi kemulianmu hai tuhan. Aku akan sentiasa menyesatkan hamba-hambamu selagi mana nyawa berada di tubuh mereka.” Tuhan menjawab “ Demi kemulian dan keagunganku aku akan sentiasa mengampunkan mereka selagimana mereka meminta ampun kepadaku.” Hadis riwayat Ahmad – sanad hasan

Rujukan: Al-Idoh wat Tabyin oleh Muhammad Abdullah al-Imam.

Cerita Orang2 Yang Soleh

Kisah pertama: Kelebihan sangka baik.

Syeikh Abi Said al-Kharraz r.a berkata: Aku masuk ke dlm Masjidil Haram dan aku melihat seorang faqir sedang meminta sesuatu. aku pun berkata dlm hatiku "Perbuatan seperti ini menyusahkan manusia." Tiba2 dia memandang kearahku dan membaca ayat "Dan ketahuilah bahawa sesungguhnya Allah mengetahui apa yg ada yg berada di dalam dirimu maka hendaklah kamu berwaspada terhadapNya."(235: Al-Baqarah) Lalu aku pun beristigfar dalam hatiku. Maka dia memanggilku dan membaca ayat "Dan Dialah tuhan yg menerima taubat daripada hamba2nya dan memaafkan kesalahan2" (25: as-Syura) Kemudian dia hilang begitu sahaja dr pandangan.

ulasan: Firman Allah "Hai org2 beriman hendaklah kamu jauhi kebanyakan sangkaan buruk kerana kebanyakannya adlah memberi dosa..."(12: Al-Hujarat)

Kisah kedua: Karamah seorang wanita.

Setengah org solih berkata: Suatu hari aku berjalan di sebuah pendalaman bersama sebuahgerombolan. Aku melihat seorang wanita berjalan dihadapan gerombolan. Akupun berkata dlm hatiku "Wanita yg lemah ini mendahului gerombolan supaya tidak ketingalan." Aku mengeluarkan beberapa dirham daripada poketku dan aku berkata kepadanya "Ambillah duit ini. Bila gerombolan ini singgah dimana2 tempat, carilah aku supaya aku mencarikan tunggan untuk kamu naiki." Bila saja dia mendengar kata2ku terus dia menghulurkan tangan kearah langit dan tiba2 ditangannya ade beberapa dirham. Dia memberinya kepadaku dan berkata "Kamu ambil duit dari jaib(poket) dan kami ambilnya dr alam gaib."

Ulasan: Firman Allah "Dan Allah memberi rezki dr sumber yg tidak disangka2 kepada org yg bertakwa"(3: at-Tolak)

kisah ketiga: Keinginan yg tertunai.

Seorang syeikh berkata: suatu hari aku lalu di tepi sungai furat. Tiba2 aku teringinkan ikan yg lembut isinya. Dgn tak semena2 air meluahkan ikan kearahku dan seorang lelaki berlari ke arahku dan berkata "Boleh saya memanggangnya untkmu." Aku jawab "Ya" Dia memanggangnya dan aku pun memakannya.

Ulasan: "Dan sesiapa yg bertawakkal kepada Allah maka Dialah yg akan mencukupinya."(3: At-Tolak)

Kisah keempat: 1 dibalas 10.

Abu Ja'far bin al-Khottab berkata: Seorang peminta sedekah berada dipintu rumahku. Aku pun bertanya pd isteriku "Apa yg engkau ada?" Dia menjawab "4 biji telor" Aku pun terus berkata "Serahkan semuanya kepadanya" Bila sahaja peminta sedekah tadi pergi, seorang kawanku telah memberikan kepadaku bekas yg mengandungi telor. Aku bertanya kpd isteriku "Ade berapa telor?" Isteriku menjawab "3o biji" Aku pun berkata "Aik Aku bagi empat tapi yg datang hanya 30; macamane ni?" Isteriku menjawab "Semuanya 40 tapi sepuluh pecah." Dikatakan satu dr 4 yg diberi itu pecah.

ulasan: Firman Allah: "Sesiapa yg melakukan satu kebaikan maka dia akan mendapat 10 balasan seumpamanya."(160: Al-Anam)

Kisah kelima: Simati mentalqinkan sihidup.

Syeikh Najmuddin al-Asbahani r.h telah mengiringi jenazah seorang soleh di Makkah. Bila saja siap dikebumi maka org yg mentalkin duduk mentalkinkan mayat. Tiba2 Syeikh Najmuddin ketawa (sedangkan dia jarang ketawa). Maka temannya bertanya sebab beliau ketawa. Dia memarahi penanya dan menjwabnya selapas peristiwa itu "Aku ketawa hanyalah disebabkan apabila penalqin duduk utk mentalqin; aku mendengar jenazah itu berkata "Adakah kamu tidak pelik apabila org yg mati(hati yg mati) mentalqin org yang hidup (hati yg hidup).?"

Ulasan: Sabda Nabi s.a.w: "Perumpamaan org yg mengingati tuhannya dgn org yg tidak mengingati tuhannya adalah seumpama org yg hidup dan org yg mati.(hr Bukhari)

rujukan: Ruadur Rayyahin oleh Yafiie dan Tafsir Jalalain.

http://akhisalman.blogspot.com/2008/01/cerita-org2-yg-soleh.html

Rabu, 26 Mei 2010

AL-KISAH BALIK RAYA

Alkisah, tersebutlah kisah....

Adalah sebuah keluarga yg berasal dari Terengganu nak balik beraya di kampung mereka, masalahnya mereka cuma ada sebuah kereta Kancil untuk memuatkan tujuh orang ahli keluarga tersebut.

Maka si ibu pun berkata,"Guane nih? Penuh kete. Dok muak ayoh mung wey!"

Ayahnya menjawab,"Betol jugok. Guane nok buat nih? Lamo dok sapa kampong ... Tujuh oghang dokleh sumak masuk kete kancil nih. Kecik do 'oh."

Mereka pun memerah otak untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Tiba2 anak mereka yang paling kecil berkata,"Ayoh .. Mok... Awang tau doh guane nok buak. Kiter sekarang ada tujuh oghang. Ayoh ngan mok tamboh la sorang lg, bru jadi 'LAPANG'..."

P/S: Bijok si Awang nih ...

Pengorbanan Yang Sebenar

Wahai umat Islam!

Manusia tidak akan gah di sisi Allah SWT di hari akhirat melainkan mereka yang beriman dan yang beramal soleh. Tidak ada kemuliaan sedikitpun kepada bangsa Arab, Turki mahupun Melayu. Para sahabat Nabi SAW dan generasi yang terdahulu, mereka sanggup melakukan pengorbanan jiwa dan harta mereka semata-mata untuk meninggikan agama Allah SWT.

Lihatlah pengorbanan Saad bin Abi Waqas untuk Islam! Diberitakan kuburnya ada di Negeri China. Begitu jauh Saad berjalan ke China semata-mata untuk menyebarkan Islam. Lihatlah kehebatan Thariq bin Ziyad yang menjadi panglima Perang Islam semasa zaman Khilafah Umayyah sehingga berjaya membuka Andalusia! Hebatnya beliau sehingga berjaya mengembangkan Islam ke wilayah yang begitu jauh dari ibu kota Daulah Islam ketika itu. Bandingkan kata-kata Thariq bin Ziyad dengan kata-kata Halim di atas. ” Kita datang ke sini tidak untuk kembali. Kita hanya punya pilihan,menaklukkan negeri ini dan menetap di sini, atau kita semua syahid.”- [Thariq bin Ziyad].

Wahai kaum Muslimin!

Tinggalkanlah amalan yang sia-sia dan berlumba-lumba melakukan kebaikan sebagaimana yang ditunjukkan oleh para sahabat dan mereka yang beriman. Ingatlah firman Allah: ”Dan orang-orang yang kafir pula, amal-amal mereka adalah umpama riak sinaran panas di tanah rata yang disangkanya air oleh orang yang dahaga, (lalu ia menuju ke arahnya) sehingga apabila ia datang ke tempat itu, tidak didapati sesuatu pun yang disangkanya itu; (demikianlah keadaan orang kafir, tidak mendapat faedah dari amalnya sebagaimana yang disangkanya) dan ia tetap mendapati hukum Allah di sisi amalnya, lalu Allah meyempurnakan hitungan amalnya (serta membalasnya); dan (ingatlah) Allah Amat segera hitungan hisabNya”. [An- Nuur (24) : 39]. FirmanNya lagi: ”Katakanlah (wahai Muhammad): "Mahukah Kami khabarkan kepada kamu akan orang-orang yang paling rugi amal-amal perbuatannya?

"(Iaitu) orang-orang yang telah sia-sia amal usahanya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahawa mereka sentiasa betul dan baik pada apa sahaja yang mereka lakukan". Merekalah orang-orang yang kufur ingkar akan ayat-ayat Tuhan mereka dan akan pertemuan denganNya; oleh itu gugurlah amal-amal mereka; maka akibatya Kami tidak akan memberi sebarang timbangan untuk menilai amal mereka, pada hari kiamat kelak. (Mereka yang bersifat) demikian, balasannya neraka Jahannam, disebabkan mereka kufur ingkar, dan mereka pula menjadikan ayat-ayatKu dan Rasul-rasulKu sebagai ejek-ejekan”. [ Al-Kahfi (18) : 103-106].

Apa yang ada pada masjid besar/indah tanpa roh Islam?

Sesetengah umat Islam mempunyai pendapat bahawa pembinaan dan pencantikkan masjid menjadi bukti teguhnya Islam di sesebuah negara, sehingga para pelancong asing yang melawat negara tersebut tidak ketinggalan menziariahi masjid-masjid yang pembinaannya menelan berjuta-juta ringgit.

Namun begitu, secara realitinya, fungsi masjid di zaman ini telah disempitkan hanya kepada amalan ibadat. Di kebanyakan masjid kita melihat kaum Muslimin dilarang berbincang tentang permasalahan umat Islam. Sama sepertimana penganut agama Kristian yang menunaikan ibadat mereka di dalam gereja atau penganut agama Yahudi beribadat di dalam biara mereka, umat Islam sekarang ini berbangga dengan masjid-masjid yang menelan berjuta-juta ringgit yang dihiasi dengan berbagai corak dan lambang seolah-olah kebesaran, keagungan dan identiti umat Islam terletak pada struktur dan kecantikan corak yang terdapat pada masjid tersebut.

Namun amat menyedihkan apabila di tempat-tempat di mana masjid-masjid ini dibina, hukum shara’ yang menjadi sepatutnya menjadi identiti umat Islam dan bukti perlaksanaan Islam di kawasan tersebut, dilupakan.

Abu Daud meriwayatkan bahawa Ibnu Abbas telah mengatakan bahawa Rasulullah SAW bersabda “Aku tidak diarahkan untuk menghiasi masjid. Dan kamu akan menghiasi masjid-masjid sebagaimana kaum Yahudi dan Nasrani”. Dan dari Anas bin Malik r.a. bahawasanya Rasulullah SAW bersabda: "Tidak berlaku (terjadi) hari Qiamat sehingga umat ku bermegah-megah (dengan binaan) masjid" [H.R. Abu Daud)]

Masjid yang pertama didirikan oleh Rasulullah SAW di Madinah hanya dibina dengan menggunakan pelepah tamar sahaja. Namun begitu, masjid tersebut menepati fungsinya sebagai sebuah masjid di dalam Islam. Masjid yang dibina oleh Rasulullah (SAW) di Daulah Islam di Madinah itu yang tidak menelan berjuta-juta ringgit sepertimana masjid sekarang dengan hiasan dan corak yang bermacam-macam, tetapi menjadi pusat di mana Rasulullah (SAW) dan para sahabatnya merancang perluasan dakwah Islam di seluruh tanah Arab dan sentiasa menjadi pusat untuk membincangkan dan memerhatikan keadaan terkini dan permasalahan umat Islam.

Hanya di dalam Daulah ISLAM sahaja peranan masjid yang sebenarnya dapat dikembalikan, di mana nama Allah dan Hukum Allah diperjuangkan dan permasalahan umat Islam dapat dibincangkan dan diperhatikan. Masjid bukan sahaja bukan sahaja menjadi tempat menunaikan amal ibadat khusus, namun ia merupakan pusat aktiviti sosio-politik kaum Muslimin.

Marilah kita sama-sama memperingati diri kita dengan amaran daripada Hadis Rasulullah berkenaan dengan peristiwa-peristiwa buruk yang akan menimpa umat Islam. Daripada Ali bin Abi Thalib r.a. berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW; "Sudah hampir sampai suatu masa di mana tidak tinggal lagi daripada Islam ini kecuali hanya namanya, dan tidak tinggal daripada Al-Quran itu kecuali hanya tulisannya. Masjid-masjid tersergam indah, tetapi ia kosong daripada hidayah. Ulama yang ada adalah sejahat-jahat makhluk yang ada di bawah naungan langit. Dari mereka berpunca fitnah, dan kepada mereka fitnah ini akan kembali". [H.R. al-Baihaqi]

Wallahu A’lam

Gurindam Nasihat

Marilah bersama kita renungkan kata-kata ini.

Semoga segala perlakuan kita semua akan sentiasa diberkati dan dirahmati oleh Allah SWT pada setiap masa dan ketika.

* Di dalam hidup manusia, yang penting ialah BERKAT.

* Bila hidup kita berkat, diri ini akan selamat.

* Apabila diri selamat, rumahtangga jadi sepakat.

* Apabila rumahtangga jadi sepakat, masyarakat jadi muafakat.

* Apabila masyarakat jadi muafakat, negara kita menjadi kuat.

* Apabila negara menjadi kuat, negara luar jadi hormat.

* Apabila negara luar jadi hormat, permusuhan pun tersekat.

* Apabila permusuhan tersekat, pembangunan pun meningkat.

* Apabila pembangunan pun meningkat, kemajuan menjadi pesat.

…….

TETAPI AWAS, apabila pembangunan meningkat, kemajuan menjadi pesat,

kita lihat bangunan naik bertingkat-tingkat.

* Ditengah-tengah itu, tempat maksiat tumbuh macam kulat.

* Apabila tempat-tempat maksiat tumbuh macam kulat,

* KETIKA ITU manusia mula mengubah tabiat.

* Apabila manusia telah mengubah tabiat,

* ada yang jadi lalat ada yang jadi ulat.

* Apabila manusia dah jadi ulat, sembahyang makin hari makin liat.

* Apabila sembahyang jadi liat, orang baik ada yang bertukar jadi jahat.

* Apabila orang baik bertukar jahat, orang miskin pula nak kaya cepat.

* Apabila orang miskin nak kaya cepat, orang tua pula nak mati lambat.

* Apabila orang tua nak mati lambat, tak dapat minum madu telan jer la

* minyak gamat.

* Yang lelaki, budak budak muda pakai seluar ketat.

* Semua nak tunjuk kuat.

* Bila berjudi, percaya unsur kurafat.

* Tapi hidup pula yang melarat.

* Tali kasut dah tak berikat.

* Rambut pun jarang sikat.

* Yang perempuan, pakai mini sekerat.

* Suka pakai baju ketat.

* Suka sangat menunjukkan pusat.

* Hingga tak pedulikan lagi batasan aurat.

* Pakai pulak yang singkat-singkat.

* Kadang-kadang ternampak benda ‘bulat’.

* Bila jadi macam ini, siapa lihat pasti tercegat.

* Silap gaya jadi gawat, bohsia bohjan lagi hebat.

* Duduk jauh berkirim surat.

* Bila berjumpa, tangan berjabat.

* Kemudian pakat lawan peluk siapa erat.

* Masa tu, nafas naik sampai tersekat-sekat.

* Usah peduli agama dan adat.

* Usah takut Allah dan malaikat.

* Yang penting apa kita nak buat?

* Kita ‘bukti’ lah kita buat.

* Akhirnya perut kempis dah jadi bulat.

* Apabila perut kempis dah jadi bulat, maka lahirlah pula anak-anak yang tak cukup sifat.

* Bila anak-anak tak cukup sifat, jam tu kita tengok bayi dibuang di merata tempat.

* MAKNANYA KETIKA ITU, IBLIS MULA MELOMPAT.

* Dia kata apa? Habis manusia dah masuk jerat.

* Habis manusia telah tersesat.

* Inilah dia fenomena masyarakat.

* Oleh itu wahai saudaraku dan para sahabat,

* Marilah kita pakat mengingat,

* Bahawa dunia hari ini makin singkat,

* Esok atau lusa mungkin kiamat,

* Sampai masa kita semua akan berangkat! .

* Berangkat menuju ke negeri akhirat.

* Di sana kita akan ditanya apa yang kita buat.

* Masa tu, sindri mau ingat.

* Umur mu banyak mana mu buat ibadat…?

* Zaman muda mu, apa yang telah mu buat…?

* Harta benda anta, dari mana anta dapat…?

* Ilmu anta, adakah anta manafaat…?

Semoga ianya dapat mengingatkan kita supaya segera meninggalkan maksiat dan memperbanyakkan ibadat.

Falsafah tunggang terbalik

Masa masih muda, korbankan kesihatan cari harta.
Bila sudah tua, korbankan harta cari kesihatan

Kerana harta, orang asing menjadi seperti saudara
Kerana harta, saudara menjadi seperti orang asing

Orang kaya mampu beli katil yang bagus,
tetapi tak boleh tidur lena (stress punya pasal)

Orang miskin tak mampu beli katil yang bagus,
tapi boleh tidur lena (letih, kerja kuli laa katakan)

Orang kaya ada duit untuk berpoya-poya,
tapi tak ada masa

Orang miskin ada masa untuk berpoya-poya,
tapi tak ada duit

Masa muda ingin jadi kaya dapat menikmati kekayaan
Bila sudah kaya tak ada masa untuk menikmati kekayaan

Walaupun ada masa untuk menikmati kekayaan
Sudah tua jadi tak ada tenaga.

Selasa, 25 Mei 2010

Jangan sombong dengan kelebihan sementara

Seorang Executive muda yang berjaya sedang memandu disebuah perkampungan di pinggir Bandar. Ia memandu agak laju dengan sebuah kereta WAJA yang berprestasi tinggi yang baru sahaja dibelinya. Sambil ia memandu perlahan-lahan ia sedang memerhatikan seorang anak kecil dicelah-celah kereta yang diletakkan ditepi jalan , ia memperlahankan keretanya untuk melihat sesuatu yang difikirkannya.

Seelok-elok sahaja kereta Waja tersebut melintasi kawasan tersebut ; anak kecil tidak kelihatan tetapi seketul batu dilontarkan tepat mengena pintu disebelah kanan kereta Waja tersebut.

Apalagi Executive muda tersebut menekan brek sekuat hatinya dan berundur ke tempat dimana Anak kecil tadi berdiri. Dengan marahnya dia keluar dari kereta terus meluru ke arah Anak kecil , menarik tangan anak kecil dan menghempasnya ke kereta yang terletak ditepi jalan dan terus memarahi Anak kecil tadi :

” Apa ni ? Siapa awak ? dan apa ke jadahnya awak berada disini ? Itu kereta baru , mahal dan susah nak baiki ? Awak tau tak ? Kenapa awak buat ini semua ? jerit Executive tersebut.

Anak kecil itu tunduk sedih , sayu dan memohon maaf ; ” Saya meminta maaf Pakcik, Saya tak tahu apa patut saya buat , ia merayu . Saya melontar batu kerana tak ada orang yang berhenti disini apabila saya panggil”.

Dengan linangan air mata ia menunjukkan ke satu sudut yang tidak jauh dari situ. “Itu abang saya , ia jatuh dari kerusi roda dari tebing disebelah dan tak ada orang yang dapat mengangkatnya kembali. Boleh tak Pakcik menolong saya , ia cedera dan ia terlalu berat untuk saya.

Dengan rasa terharu, Executive muda tersebut melepaskan anak kecil tersebut dan terus mengangkat abangnya dan meletakkannya kembali ke kerusi roda.

Terima kasih , pakcik, Saya doakan pakcik selamat dunia dan akhirat.

Tak dapat digambarkan dengan perkataan , Executive muda hanya melihat dengan sayu, Anak kecil tersebut menyorong abangnya yang cacat dan cedera pulang menuju ke rumahnya. Anak sekecil itu boleh mendoakannya akan kesejahteraan hidupnya.

Executive muda tersebut berjalan perlahan ke arah kereta , WAJA kemek teruk tetapi ia membiarkan saja tanpa dibaiki. Ia mengingatkannya bahawa kita tidak perlu berkejar-kejar dalam kehidupan ini sehinggakan seseorang melontar batu hanya kerana hendakkan perhatian .

Pengajaran :
Tuhan tidak menjanjikan hidup ini tidak pernah susah, bersuka-ria tanpa kesedihan, panas tanpa hujan tetapi ia memberi kita kekuatan, menenangkan kita semasa kesedihan dan menunjukkan jalan yang sebenar-benarnya. Janganlah kita sombong dengan kelebihan yang sementara.

=========

Semoga menjadi iktibar dan renungan kita bersama…

PERSOALAN TASAWWUF

BERSAMA DR ZULKIFLI MOHAMAD AL-BAKRI

Bolehkah berlaku karamah selepas seseorang meninggal dunia?

JAWAPAN

Tentang karamah para wali, sama ada di masa hidup mahupun selepas mati, terdapat kekhilafan di sisi ulama. Ada yang mempercayainya dan ada pula yang tidak mempercayainya, dan tidak perlu dibincangkan kerana ia tidak mempercayai ketetapan al-Quran dan Sunnah Nabi. Terhadap kalangan yang mempercayainya, tentu sedar bahawa karamah selepas mati itu adalah termasuk sejenis karamah, yang tidak dapat dibantanh oleh akal dan syarak.

Imam Ibn Hajar menyatakan: Tidaklah menghairankan kalau di kalangan Muktazilah membantah adanya karamah sebab lebih jauh daripada itu mereka pun membantahnya. Mereka membantah nas-nas tentang mutawattir (hadis-hadis yang terkenal), seperti ingkar adanya soalan Mungkar dan Nakir, seksa kubur, kalam Rasulullah s.a.w di akhirat, timbangan dosa dan pahala dan lain-lain lagi.

Timbulnya anggapan demikian, kerana mereka sangat berpegang pada akal yang fasid (tidak objektif) dan dengan akal yang demikian pula mereka pula membantah beberapa tanda-tanda kebesaran Allah.

Apa yang lebih menghairankan ialah kalau bantahan itu datangnya dari kalangan yang menamakan dirinya Ahli Sunnah.

Adapun dalil adanya keramat sesudah mati, antara lain sebagaimana seperti berikut: Keramat adalah sesuatu yang mungkin. Setiap yang mungkin itu jaiz (harus). Jadi keramat sesudah mati adalah jaiz (harus), bukan wajib dan bukanpula mustahil. Sebab jika tidak berlaku, tentu lazim mentarjihkan (menguatkan) salah satu dari dua yang mungkin tanpa sesuatu yang memperkuatnya. Kuatnya sesuatu tanpa menguatkan, adalah mustahil.

Jika mengatakan tidak meungkin terjadi, sedangkan karamah itu adalah ciptaan Allah adalah Sesuatu yang mungkin, baik untuk mengadakan ataupun untuk tidak mengadakan, nescayalah Allah itu lemah, bukan Maha Kuasa. Allah lemah adalah mustahil.

Jika mengatakan setiap yang boleh jadi, tidak mesti terjadi, maka anggapan itu benar. Tetapi terdapat alasan kuat dari hadith Nabi s.a.w yang memastikan adanya karamah selepas mati.

Al-hafiz al-Munziri dalam kitab al-Targhib wa al-Tarhib memetik hadis Tirmizi (gharib), yang menyatakan bahawa Ibn Abbas berkata yang maksudnya:

Beberapa orang sahabat membentang khemah di atas sebuah kubur. Dia tidak menyangka bahawa tempat itu adalah tanah perkuburan padahal ia kubur seorang manusia.

(Pada malam hari), sahabat itu mendengar mayat dalam kubur itu membaca al-Quran surah al-Mulk dari awal hingga akhir (dengan suara yang merdu).

(Setelah disampaikan kepada Nabi s.a.w) maka Baginda bersabda: Surah al-Mulk itu adalah mencegah dari kejahatan dan menyelamatkan dari seksa kubur.

Berdasarkan hadith itu, jelaslah bahawa Baginda mengakui adanya karamah sesudah mati, sebab adanya mayat membaca al-Quran, dengan menyatakan surah al-Mulk itu mencegah dan menyelamatkan dari seksa neraka.

Jika sekiranya karamah orang mati itu tidak ada, tentulah ia membantahnya seketika itu juga, sebab; keterangan tidak boleh lambat dari waktu yang diperlukan.

Kalangan ulama tasawuf, wali-wali Qutub dan ahli-ahli falsafah tidak membantah adanya karamah selepas mati, kerana para wali itu dijadikan Allah sebagai anak kunci atau sebagai anak tangga untuk menyampaikan hajat orang yang mendoa kepada-Nya. Dan mereka merupakan wasilah untuk melepaskan orang dari berbagai masalah dan kesusahan. Firman Allah s.w.t dalam surah al-Isra’, ayat 20 yang bermaksud:

“Kepada masing-masing golongan baik golongan Ini mahupun golongan itu kami berikan bantuan daripada kemurahan Tuhanmu. dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.”

Yang dimaksudkan dengan golongan ini dan golongan itu ialah mereka yang tersebut dalam ayat 18 dan 19 sebelumnya, iaitu orang yang menghendaki kehidupan dunia dan orang yang menghendaki kehidupan akhirat.

Jika Ibn al-Qayyim mengemukakan adanya karamah para wali, merupakan tanda-tanda kebesaran Allah, maka Syeikh Abdul Wahab Sya’rani memperkuatkan pendapat itu dengan alasan bahawa beliau sendiri telah menyaksikan berkali-kali.

Syeikh Muhammad Hasanain al-Adawi dalam kitabnya al-Mathaalib Qudsiah fi Ahkaam al-Ruh wa Aatsariha al-Kauniah, menegaskan bahawa limpahan kurnia Allah kepada para wali berupa karamah baik pada masa hidup mahupun sesudah matinya, adalah sesuatu hal yang pasti di kalangan pengikut-pengikut ahli tasawuf, bahkan juga kalangan lain, kerana tidak ada alasan yang dapat menolaknya baik logic, mahupun ayat al-Quran ataupun hadis Nabi.

Wali itu sudah diizinkan Allah dapat melakukan sesuatu dengan ketentuan-Nya sebelum sesuatu itu terjadi, sesuai dengan ilmu-Nya.

Abu al-Mawahib al-Syazali menyatakan bahawa wali yang sempurna ialah yang sudah mendapat keizinan Allah untuk memutarbalikkan sesuatu dalam ala mini. Allah mengurniakan karamah ke atasnya di saat hidupnya sebagaimana diberinya sesudah kematiannya.

Allah menyembuhkan orang sakit, menyelamatkan orang karam, mengalahkan musuh, menurunkan hujan dan sebagainya, sebagai kemuliaan (karamah) bagi wali itu. Boleh jadi Allah memunculkan seseorang yang menyerupainya, ketika orang itu memerlukannya dan meminta bantuannya. Dan bersamaan dengan itu, permintaan orang itu pun diperkenankan-Nya.

Secara ringkasnya, orang-orang yang mengakui dan meyakini adanya karamah para wali itu, seperti menyembuhkan orang sakit atau menyelamatkan orang yang karam di tengah lautan, baik di masa hidup mahupun sesudah matinya bukan bererti bahawa merekalah yang membuatnya. Sama sekali tidak. Dan bukan pula Allah telah melimpahkan kepada mereka untuk melaksanakannya. Tetapi yang dimaksudkan adalah para wali Allah, disebabkan kesucian diri dan kemuliaannya di sisi Allah, apabila orang memohon kepada Allah dengan menghadapkan wajah kepada roh-roh mereka yang bersih dan suci, permintaan itu diperkenankan-Nya.

Isnin, 24 Mei 2010

Cukup Dahsyat Tapi Sudah Sedarkah?

Setelah memikirkan berkali-kali baris-baris ayat di bawah, saya tidak boleh menunggu lagi kecuali mesti dengan segera menghebahkannya kepada sekalian umat berkenaan betapa dahsyatnya hukuman bagi kesalahan ini.

Tidak dinafikan, sudah diketahui umum, syirik adalah dosa terbesar di dalam Islam. Ia disebutkan dengan jelas dari ayat

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء
Ertinya : Sesungguhnya Allah tidak akan mengampunkan barangsiapa yang mensyirikkannya, dan (Allah) akan boleh mengampunkan dosa-dosa yang lebih rendah dari syirik."

Namun, setelah memikirkan berkali-kali baris-baris ayat di bawah, saya tidak boleh menunggu lagi kecuali mesti dengan segera menghebahkannya kepada sekalian umat berkenaan betapa dahsyatnya hukuman bagi kesalahan ini.

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُواْ إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَن جَاءهُ مَوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّهِ فَانتَهَىَ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Ertinya : Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. ( Al-Baqarah : 275 )

Itulah kengerian hukuman Allah swt terhadap satu dosa selain syirik. Itulah pengamal riba setelah pengharamannya.

Cuba kita sama-sama petikan penutup ayat di atas

وَمَنْ عَادَ فَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Ertinya : Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya

Imam Ibn Kathir ketika mentafsirkan lafaz ini menyebut :-

ومن عاد أي إلى الربا ففعله بعد بلوغه نهى الله عنه فقد استوجب العقوبة
Ertinya : Lafaz "barangsiapa mengulangi" ertinya kembali terlibat dengan riba hingga terjebak dalamnya walalupun setelah datangnya hukum larangan Allah darinya, hasilnya wajiblah bagi mereka hukuman keras" (Tafsir Al-Quran Al-‘Azim, 1/328)

Berdasarkan dalil-dalil hadis, para ulama membuat kesimpulan bahawa setiap umat Islam yang mengucap dua kalimah shahadah, sebanyak manapun dosa yang dilakukan di atas dunia, mereka akan dihumbankan ke dalam neraka, terkurung didalamnya untuk satu tempoh yang layak bagi dosa mereka, kemudian mereka akan dikeluarkan darinya dengan syafaat Nabi Muhammad s.a.w dalam keadaan mati, kemudian ditempatkan di dalam sungai kehidupan, lalu hiduplah kembali. Semua ini dicatatkan dalam hadis. (Syarah Sohih Muslim, An-Nawawi, 3/36 )

Selanjutnya Imam An-Nawawi mengulas terdapat lima jenis syafaat yang diberikan kepada Nabi Muhammad s.a.w di akhirat kelak iaitu ( Syarah Sohih Muslim, 3/36) :-

1) Memberi tenang dan rehat dari hiruk pikuk mahsyar dan menyegerakan seseorang untuk masuk ke Syurga. Syafaat ini khusus untuk Nabi Muhammad s.a.w.

2) Memasukkan seseorang ke Syurga tanpa hisab, peruntukan syafaat ini juga terdapat untuk Nabi Muhammad s.a.w.

3) Kaum yang wajib dihumban di neraka boleh diselamatkan oleh Nabi s.a.w

4) Mengeluarkan kaum yang sedang diazab di neraka untuk kembali ke Syurga kecuali bagi mereka yang mati dalam keadaan kafir.

5) Peningkatan darjat di syurga agar mendapat tahap syurga yang lebih baik.

Sedarkah ?!

Namun sedarkah kita dan mereka di sekeliling kita, keluarga, rakan dan lainnya bahawa, berterusan dalam dosa riba boleh menyebabkan seseorang itu dianggap menghalalkan riba setelah pengharamannya lalu jatuh kafir mereka itu, tatkala itu matinya mereka adalah dengan hati kekafiran hingga terkeluar dari senarai mereka yang boleh mendapat syafaat nabi Muhammad s.a.w.

Berhati-hatilah dan amat wajib bagi semua muslim yang meyakini ada maut untuk menjauhi riba. Kita amat bimbang, ketidakpedulian itu adalah merupakan satu keingkaran terhadap hukum haramnya. Seterusnya boleh mejatuhkan seseorang dalam kekafiran tanpa sedar hingga melayakkan seseorang itu kekal di neraka. Nabi juga tidak mempunyai peruntukan untuk memberi bantuan (syafaat) kepada golongan sebegitu. Moga kita semua dipelihara oleh Allah swt.

Inilah yang diulas oleh Imam Fakhruddin Ar-razi apabila beliau menghurauikan maksud ‘orang yang kembali' dalam ayat di atas sebagai :-

فالمعنى ومن عاد إلى استحلال الربا حتى يصير كافراً
Ertinya : erti ayat "barangsiapa yang kembali" (di atas, adalah bermakna mereka kembali menghalalkan riba sehingga mereka itu jadi kafir. ( Tafsir Al-Kabir, 7/82)

Akhirnya, alasan sibuk, malas, belum sampai seru, nanti dan pelabagi pagi alasan orang di zaman ini dari berubah dari pinjaman rumah riba, kereta riba, kad kredit riba, akaun simpanan riba, insuran riba, skim riba, pelaburan riba, mahal sikit la, leceh proses, belum ada masa dan pelbagai lagi TIDAK WAJAR SAMA SEKALI wujud dalam hati individu yang bernama MUKMIN MUSLIM.

Itu pun jika ingin selamat diakhirat, jika tidak..tunggulah bila waktunya tiba.

Sekian

Zaharuddin Abd Rahman
www.zaharuddin.net
ORIGINAL ARTICLE : http://www.zaharuddin.net/content/view/702/98/

Sayu Hati Melihat Gambar-Gambar ini

Tertidur keletihan..maklumlan jadual harian Tok Guru memang padat,semoga Tok Guru dipanjangkan umur untuk terus memimpin kita
Makan nasi bungkus je? 20 tahun menjadi MB masih mengekalkan ciri2 kesederhanaan
Sembahyang kat pondok tepi sawah je
Walaupun bertaraf Ulama,tapi tidak kekok menjadi makmun pada rakyat biasa.Tabik Tok Guru
Hu Ferrari beb… sekadar duduk bkn memiliki..
Sedia menerima tetamu tanpa protokol yang ketat.Perhatikan pakaian Tok Guru macam orang kampung biasa je..

Gambar yang di kumpul dari berbagai sumber yang menunjukkan Tok Guru dalam keadaan istimewa.Walaupun dah 20 tahun jadi MB tapi masih mengekalkan ciri2 kesederhanaan yang disanjung rakyat.Dapatkah pemimpin lain samada dari UBN atau PAKATAN RAKYAT sendiri mencontohi apa yang diamalkan Tok Guru…


http://loveperak.wordpress.com/

Jumhuriyyah Misr al-Arabia

Nadi kehidupan Mesir adalah Sungai Nil. Sejak dulu Mesir menjadi titik strategis perjuangan pelbagai bangsa untuk menguasai dunia. Napoleon pernah berkata bahawa Mesir adalah negara terpenting di dunia.

Mesir memiliki sejarah panjang, mulai dari masa Firaun, khalifah, hingga zaman republik. Kejayaan Mesir Kuno masih berdiri kukuh dengan peninggalan piramid serta spinks. Pada masa itulah lahirnya Nabi Musa a.s.

Kini negara itu merupakan negara republik yang dalam bahasa Arab disebut Jumhuriyyah Misr al-Arabia.

Mesir bersempadan dengan Laut Merah (timur), Libya (barat), Laut Tengah (utara), dan Sudan (selatan). Majoriti penduduk Mesir, Badwi, dan Nubia; berbahasa Arab dan beragama Islam (Sunni).

Islam masuk ke Mesir sejak masa Khalifah Umar pada abad ke-7. Sumbangan dan penglibatan Mesir bagi tamadun Islam amat besar, khususnya di bidang ilmu dan pendidikan.

Mesir Kuno merupakan salah satu daripada peradaban tertua dunia. Sejak 4000 tahun Sebelum Masihi (SM), Mesir telah memiliki peradaban tinggi sehingga kemudian menjadi penting dalam sejarah perkembangan Islam. Pada abad ketiga SM, peradaban Mesir mencapai kemajuan luar biasa. Ini terbukti daripada pembinaan piramid.

Giza adalah piramid paling terkenal yang dibina bersama spinks, iaitu patung berbadan singa dan berkepala manusia. Piramid terdiri di atas ribuan blok batu, masing-masing sekitar 2 tan. Salah seorang Firaun terkenal adalah Ramsess II (1300-1234 SM). Nabi Musa a.s lahir pada masa Ramses II ini.

Besar kemungkinan bahawa Ramsess II (sumber lain: lahir, putera Ramsess II) inilah yang mengejar Nabi Musa serta Bani Israel ketika menuju Kanaan. Rombongan Musa berjaya menyeberangi Laut Merah dengan selamat, sedangkan Firaun serta pasukannya tenggelam ditelan Laut Merah.

Nil, sungai terpanjang di dunia (6, 690km), berperanan penting bagi kehidupan Mesir. Nama Nil berasal daripada bahasa Mesir Kuno yang bererti air. Daripada kata tersebut muncullah kata nahal (Arab), neilos (Yunani), dan nilus (Latin) yang bererti air, sungai atau lembah.

Orang Mesir Kuno menyebut sungai ini sebagai Ar Kem, Kemi, dan Aigyptos. Ekonomi Mesir amat tergantung pada Sungai Nil yang menunjang sektor pertanian yang menghasilkan kapas, padi, sayur-sayuran, tebu, dan buah-buahan.

Di daerah aliran sungai ini tumbuh papyrus yang dijadikan kertas pada zaman Mesir Kuno dan terbina banyak bangunan peninggalan masa silam seperti piramid.

Al-Baqarah, ayat 40: Jangan sembunyikan yang benar

Oleh DR. ZULKIFLI MOHAMAD ALBAKRI

Selepas Allah mengarahkan kepada Bani Israil beberapa arahan, antaranya mengingati nikmat, menunaikan janji, takut kepada-Nya, beriman dengan kitab yang diturunkan, jangan menjadi orang yang pertama kafir, di samping jangan menjual ayat-ayat Allah, maka Allah meneruskan lagi arahan dan suruhan-Nya dengan ayat berikut.

Surah al-Baqarah, ayat 42 yang bermaksud:

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang benar itu dengan yang salah, dan kamu sembunyikan yang benar itu pula padahal kamu semua mengetahuinya.”

Firman Allah: “Dan janganlah kamu campur adukkan yang benar itu dengan yang salah”, iaitu jangan sekali-kali kamu mencampurkan antara kebenaran yang diturunkan daripada Allah dengan kebatilan yang kamu rekaciptakannya dan jangan juga kamu mengubah apa yang terdapat di dalam Taurat dengan cara pembohongan dan penipuan yang kamu ada-adakannya.

Al-Samarqandi dalam tafsirnya Bahr al-Ulum berkata: “Campur adukkan di sini pada bahasa adalah memakai pakaian, dengan maksud dan maknanya jangan kamu campurkan kebenaran dan kebatilan, di mana kamu sembunyikan sifatnya, yang demikian itu kerana mereka mengkhabarkan sebahagian sahaja sifatnya dan menyembunyikan sebahagian yang lain supaya mereka mempercayai dan membenarkan. Dengan demikian itu sehingga mengelirukan mereka.”

Qatadah pula berkata: “Jangan kamu campur adukkan ajaran Yahudi dan Kristian dengan Islam, sedangkan kamu tahu hakikat agama Allah yang sebenarnya ialah Islam.”

Ada pendapat menyatakan maksud ayat ini ialah jangan kamu beriman dengan sebahagian dan beriman dengan sebahagian yang lain.

Di samping itu, “Dan kamu sembunyikan yang benar itu pula”, iaitu jangan sekali-kali kamu sembunyikan apa yang terdapat di dalam kitab kamu daripada segala sifat Muhammad s.a.w.

Ibn Jauzi melalui kitabnya Zad al-Masir berkata: “Dikehendaki dengan kebenaran dua pendapat: Pertama, bahawa ia berhubung dengan urusan Nabi s.a.w, inilah pendapat Ibn Abas, Mujahid, Qatadah, Abu al-`Aliah, al-Suddi dan Muqatil. Kedua, bahawa ia berhubung dengan agama Islam, seperti pendapat al-Hasan.”

Al-Imam al-Maghari berkata: “Larangan yang pertama berkaitan dengan pemindaan dan penukaran, sedangkan larangan yang kedua daripada menyembunyikan.”

Syeikh Abdul Rahman al-Sa’di di dalam tafsirnya Taisir al-Karim berkata: “Kerana maksud daripada ahli kitab dan ilmu, ialah membezakan kebenaran dan menzahirkannya supaya memberi petunjuk kepada orang yang mendapat hidayat dan kembali orang-orang yang sesat daripada kesesatannya disamping menjadi hujah dan bukti ke atas orang-orang yang mengingkarinya. Begitu juga kerana Allah menerangkan melalui ayat-ayatnya dan menjelaskan segala kenyataannya untuk membezakan yang hak daripada batil dan membetulkan jalan orang yang silap. Justeru siapa yang beriman dengan ini dari kalangan ahli ilmu sebenarnya ia layak menjadi pengganti Rasul dan petunjuk ummah.”

Seterusnya ayat ini menerangkan cara mereka dalam kesesatan dan penyelewengan, sebagaimana yang terkandung di dalam kitab-kitab mereka:

1.Peringatan daripada nabi-nabi mereka berhubung dengan pendustaan, dengan kebangkitan.
2.Allah s.w.t bangkitkan pada mereka seorang nabi daripada anak Ismail, daripada perempuan yang bernama Hajar dan diterangkan segala alamat yang jelas tanpa sebarang kekeliruan, sebaliknya merekalah (paderi dan pendeta) yang mengelirukan dengan berbagai-bagai tohmahan kepada Rasulullah s.a.w.
“Padahal kamu semua mengetahuinya”, iaitu sebenarnya atau keadaan kamu yang mengetahui dengan kemudaratan menyembunyikannya.

Al-Fakh al-Razi berkata: “Larangan daripada campur aduk dan menyembunyikan terikat dengan ilmu, walaupun begitu bukan bermakna keharusan campur aduk dan menyembunyikan golongan tanpa ilmu dan sebab keterikatan kepada golongan berilmu kerana tindakan mereka jauh lebih mudarat dan besar kesannya daripada perlakuan yang dilakukan oleh orang jahil apabila mereka mempunyai ilmu berada dalam tipu daya daripada segala kerosakan ini. Justeru tindakan mereka jauh lebih buruk dan keji. Oleh itu ayat ini menunjukkan bahawa orang alim yang mengetahui dengan sebenarnya wajib menzahirkannya dan haram ke atasnya menyembunyikan.”

Ibn Qayim melalui kitabnya `Ilam al-Muwaqi`in menegaskan seperti berikut: Jika seseorang hakim atau pemberi fatwa dihadapkan oleh sesuatu masalah, maka ada dua kemungkinan iaitu:

1.Ia mengetahui masalah itu dengan keyakinan yang mantap atau ia mengetahui masalah itu dengan dugaan kuat yang ia dapati setelah mengeluarkan daya upayanya dengan mencari atau mengetahui masalah itu.
2. Ia tidak mengetahui masalah itu dan tidak memiliki dugaan kuat terhadap masalah itu, jika ia tidak mengetahui masalah itu dengan mantap dan juga tidak memiliki dugaan yang kuat dengan mengeluarkan daya upayanya untuk mengetahui masalah itu maka ia tidak boleh mengeluarkan fatwa dan mentapkan hukum pada masalah itu, dan jika ia melakukan hal itu, maka ia akan mendapat ancaman seksaan Allah serta termasuk dalam firman Allah yang berbunyi: “Katakanlah; Rabb-Ku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak mahupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yan Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang kamu tidak ketahui.” (al-`Araf: 33)

Ayat ini menerangkang bahawa berpendapat tentang (ketetapan) Allah tanpa didasari ilmu, maka hal itu adalah perbuatan yang termasuk dalam empat perbuatan yang amat dilarang Allah, yang tidak dibolehkan pada setiap keadaan. Untuk itu larangan keempat perbuatan ini diungkapkan membatasi iaitu dengan menggunakan kata “hanya” juga termasuk dalam firman Allah yang bermaksud: “Dan janganlah kamu mengikut langkah-lamgkah syaitan, kerana sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan kepada Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (al-Baqarah: 168-169)

Termasuk pula sabda Nabi s.a.w. yang bermaksud: “Barangsiapa yang memberi fatwa tanpa didasari ilmu, maka dosanya hanya bagi orang yang memberi fatwa.”

Juga termasuk pada seorang hakim dari tiga hakim yang dua di antaranya mereka berada di neraka, iaitu hakim yang memutuskan perkara tanpa didasari ilmu pengetahuan. Dan juga ia mengetahui masalah itu dengan mantap atau memiliki dugaan yang kuat, maka ia tidak boleh memberi fatwa atau mengeluarkan ketetapan hukum yang sebaliknya. Jika seseorang mengeluarkan fatwa atau menetapkan hukum tanpa didasari ilmu pengetahuan akan mendapat dosa besar, maka bagaimana halnya dengan orang yang mengeluarkan fatwa atau menetapkan sesuatu hukum dengan ketetapan yang telah ia ketahui bahawa keteapan itu bertentangan dengan ketetapan yang sebenarnya? Tidak diragukan lagi, bahawa ia telah sengaja berbuat dusta kepada Allah dan Allah telah berfirman yang bermaksud: “Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam.” (al-Zumar: 60)

Tidak ada yang lebih besar kezalimannya daripada orang yang mendustai Allah dan agama-Nya, dan seseorang yang memberi fatwa dengan tidak didasari pengetahuan bererti ia telah mendustai Allah dengan kebodohan, oarng-orang seperti itu telah lebih buruk keadaannya daripada orang yang menuduh seseorang telah berzina kerana kemungkaran dilihat oleh dirinya seorang, bagi Allah ia telah melakukan dusta walaupun ia mengkhabarkan kenyataan, kerana Allah tidak mengizinkan orang itu bersaksi pada suatu perbuatan zina itu, jika Allah menganggap dusta kepada seseorang yang telah bersaksi pada suatu perbuatan zina padahal berita itu benar, maka bagaimana dengan orang yang mengkhabarkan suatu hukum ketetapan Allah sementara ia sendiri tidak tahu ketetapan Allah itu? Dan juga Allah tidak memberinya izin untuk menetapkan hukum itu atau memberi fatwa?

Allah berfirman yang bermaksud: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘ini halal dan ini haram’, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu benar) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih.” (al-Nahl: 116-117)

Dan firman Allah lagi yang bermaksud: “Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya.” (al-Zumar: 32)

Berdusta kepada Allah bererti mendustai kebenaran, Allah berfirman: “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah. Mereka itu akan dihadapkan kepada Rabb mereka, dan para saksi akan berkata: Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Rabb mereka. Ingatlah kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim.” (Hud: 18)

Walaupun ayat-ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang musyrik dan orang-orang kafir, akan tetapi termasuk pula di dalamnya untuk orang-orang yang mendustai Allah dalam tauhid, agama, nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan Allah, dan tidak termasuk dalam ayat-ayat ini bagi orang yang salah dalam ketetapan fatwanya jika ia telah mengeluarkan segala kemampuan dan daya upaya untuk mencapai kebenaran hukum Allah yang telah Allah syari`atkan, kerana hal inilah (berusaha dengan segala daya upaya) yang telah Allah wajibkan kepada hamba-Nya, orang yang taat kepada Allah tidak akan mendapat ancaman siksaan Allah walaupun ia salah kerana kelengahannya.

Ibn Jarir al-Tabari merumuskan ta’wilan ayat ini di dalam kitabnya Jami’ al-Bayan seperti berikut: “Jangan kamu campur adukkan kepada manusia hai pendeta-pendeta daripada kalangan ahli kitab pada urusan Muhammad s.a.w dan apa-apa yang didatangkan dengannya di sisi Tuhannya. Sedangkan kamu sangka bahawa ia dibangkitkan hanya kepada sebahagian bangsa bukan semua, atau kamu bersifat munafik pada urusannya, tetapi yang sebenarnya kamu amat maklum bahawa ia diutuskan kepada kamu semua dan semua umat yang lain. Malangnya kamu campur adukkan kebenaran dengan pendustaan disamping kamu menyembunyikan dengannya apa yang kamu dapatinya pada kitab kamu daripada segala sifatnya. Bahawa ia merupakan rasul-Ku kepada seluruh manusia, sedangkan kamu mengetahui hakikatnya yang ia sebagai rasul-Ku. Begitu jua apa yang dibawa kepadamu daripada-Ku. Dan kamu mengetahui bahawa daripada perjanjian-Ku yang Aku ambilnya daripadamu sebagaimana termaktub di dalam kitabmu ialah hendaklah beriman dengannya dan dengan apa yang dibawa di samping mempercayainya.”

Ahad, 23 Mei 2010

Solat fardhu lebih baik berjemaah

Solat fardu Rasulullah tidak pernah bersendirian
Oleh: SAHBULAH DARWI

KEPENTINGAN solat lima waktu sememangnya diketahui umum oleh umat Islam sehingga ia diletakkan pada kedudukan kedua dalam rukun Islam selepas mengucap dua kalimah syahadah. Begitupun, keadaan umat Islam pada zaman ini yang sebahagiannya didapati sengaja mencuaikan perintah Allah ini, apatah lagi untuk menunaikannya secara berjemaah, adalah suatu realiti yang amat menyedihkan hari ini. Oleh itu, adalah penting untuk masyarakat Islam diberikan dorongan (targhib) dengan menerangkan kelebihan dan keistimewaan solat berjemaah bagi menarik mereka kepada amalan tersebut kerana ia bukan sesuatu yang boleh dipaksa.

Nabi Muhammad telah mendidik para sahabatnya serta umat Islam keseluruhannya sehingga akhir zaman supaya bukan sahaja menjaga solat lima waktu tepat pada waktunya, bahkan supaya bertekun mengambil berat terhadap solat berjemaah. Hatta, Baginda tidak pernah bersolat fardu secara sendirian sepanjang hayatnya.

Dalam hadis Qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Qatadah Rasulullah bersabda:
Allah berfirman, Aku telah memfardukan ke atas umatmu solat lima waktu. Aku sungguh-sungguh telah berjanji dengan diri-Ku bahawa sesiapa yang menjaga solat tepat pada waktu maka Aku bertanggungjawab untuk memasukkannya ke dalam syurga. Sebaliknya bagi sesiapa yang tidak menjaga solat, Aku langsung tidak bertanggungjawab ke atasnya. (Riwayat Abu Daud dan Ibu Majah).

Ketika hampir wafat, Baginda tetap pergi ke masjid untuk menyertai solat berjemaah yang diimamkan oleh Saidina Abu Bakar. Demikianlah perilaku mulia yang ditunjukkan Baginda supaya umat Islam mengambil contoh tauladan untuk turut bersungguh-sungguh menjaga solat berjemaah yang dijanjikan banyak ganjaran dan rahmat daripada Allah.

Diriwayatkan daripada Abdullah bin Umar bahawa Rasullullah bersabda: Sesungguhnya solat berjemaah adalah 27 kali ganda lebih afdal daripada solat bersendirian. (Riwayat Imam Malik, Bukhari dan Muslim).

Apabila seseorang itu mendirikan solat dengan ikhlas bersama niat untuk memperoleh keredaan Allah dan berniat mendapatkan ganjaran (ihtisab), maka cara yang mudah ialah bersolat di masjid dengan berjemaah dan bukan melakukannya secara sendirian. Sebagaimana seorang pekerja tidak mungkin kita melepaskan peluang untuk meraih gaji RM27 untuk sesuatu pekerjaan mudah, sebaliknya berpuas hati dengan hanya RM1. Tamsilan tersebut hanya bertujuan memberikan gambaran kerana lazimnya manusia lebih mudah memahami keuntungan atau kerugian berkaitan hal keduniaan. Namun sebenarnya keuntungan dalam amalan agama sebagaimana solat adalah terlalu besar.

Anas bin Malik meriwayatkan Rasulullah bersabda: Sesiapa yang mengerjakan solat berjemaah kerana Allah dengan memperoleh takbiratul ula selama 40 hari akan mendapat dua kelepasan, kelepasan daripada api neraka dan kelepasan daripada sifat munafik. (Riwayat al-Tirmizi).
Antara ganjaran lain ialah Allah akan mengurniakan lima keistimewaan;

Pertama, akan diangkat kesempitan hidup;
Kedua, akan dihindar daripada azab kubur;
Ketiga, akan menerima buku catatan amalan melalui tangan kanan;
Keempat, akan melintasi titian sirat sepantas kilat dan
Kelima, akan memasuki syurga tanpa hisab.

Sebahagian ulama meletakkan hukum bagi solat fardu lima waktu secara berjemaah untuk golongan lelaki ialah fardu ain. Manakala sebahagian ulama pula mengatakannya sebagai fardu kifayah dan sebahagian lagi ulama termasuk Imam Syafie berpendapat ia adalah sunat muakkad.

*Golongan munafik Pada zaman Rasulullah, kesemua orang Islam akan datang ke masjid solat berjemaah, kecuali mereka yang benar-benar uzur manakala golongan munafik pula tidak menyertai solat Isyak dan Subuh secara berjemaah kerana merasakan mereka tidak akan dapat dilihat pada dua waktu yang suasana harinya agak gelap itu.

Abdullah bin Abbas berkata bahawa Rasulullah bersabda: Sesiapa yang mendengar azan dan tidak pergi menunaikan solat berjemaah tanpa sesuatu sebab yang menghalangnya iaitu keuzuran daripada menyertai solat berjemaah maka solat yang dikerjakan (tanpa berjemaah) tidak akan diterima. Para sahabat bertanya: Apakah keuzuran itu? Jawab Rasulullah: Takut atau sakit. (Riwayat Imam Abu Daud dan Ibnu Hibban).

Bagaimanapun ulama muktabar sepakat mengatakan bahawa perkataan ‘solat tidak akan diterima' bermaksud bahawa dia tidak akan mendapat ganjaran daripada Allah melalui solat yang dikerjakan itu, sebaliknya hanya sekadar terlepas daripada kewajipan menunaikan solat fardu. Ulama menggariskan keuzuran yang dimaksudkan dalam hadis di atas termasuk cuaca yang terlampau sejuk, hujan lebat, terpaksa buang air, lapar atau dahaga, takut kepada pemiutang kalau-kalau dimintanya di tengah jalan sedangkan ia benar-benar tidak mampu, takut kepada orang zalim dan siap sedia untuk bermusafir, takut kalau-kalau terlewat atau ketinggalan.

Rasulullah bersabda: Seseorang itu mengambil wuduk dengan sempurna lalu berjalan menuju ke masjid semata-mata untuk bersolat maka setiap langkah yang dilangkahinya akan ditingkatkan satu darjat, (langkah yang sama) digugurkan satu dosa, dan diberikan satu pahala. Setelah bersolat, jika dia terus duduk di dalam masjid (dengan keadaan berwuduk) maka para malaikat akan memohon rahmat dan keampunan untuknya. Selama mana dia terus menunggu untuk menunaikan solat yang seterusnya maka dia akan terus menerus mendapat pahala solat selama masa dia menunggu solat tersebut. (Riwayat Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmizi dan Ibnu Majah). Diriwayatkan daripada Sahl bin Sa'idi bahawa Rasulullah bersabda: Berilah berita gembira kepada mereka yang selalu berjalan ke masjid dalam kegelapan malam bahawa mereka akan memperoleh nur yang sempurna pada hari kiamat. (Riwayat Ibnu Majah).

Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Abu Said, Rasulullah bersabda: Apabila kamu melihat seorang yang selalu ke masjid maka hendaklah kamu bersaksi atas keimanannya. Lalu baginda membaca surah al-Taubah ayat 18 yang bermaksud: Sesungguhnya mereka yang memakmurkan masjid-masjid Allah (yakni yang menghidupkan amalan dalamnya) ialah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat... Begitu besar ganjaran yang disediakan untuk orang yang bersolat jemaah sehinggakan mereka yang tidak sempat untuk menyertai jemaah turut diberi ganjaran seandainya sebelum itu dia menyangka solat belum selesai lagi. Abu Hurairah meriwayatkan bahawa Rasulullah bersabda: Seseorang yang berwuduk dengan sempurna lalu pergi ke masjid untuk bersolat berjemaah) lalu mendapati orang ramai telah selesai solat berjemaah, Allah akan memberi kepadanya ganjaran pahala yang sama sebagaimana mereka yang telah bersolat berjemaah, tanpa mengurangkan sedikit pun daripada pahala mereka. (Riwayat Abu Daud, Nasai dan Hakim).

Sebenarnya terlalu banyak sabda Rasulullah yang menggalakkan umat Islam untuk menunaikan solat secara berjemaah namun beberapa hadis di atas adalah memadai untuk mereka yang benar-benar mahu mengikut jejak langkah yang ditunjukkan oleh Baginda. Sesungguhnya Islam bukanlah hanya berkenaan perkara solat sahaja kerana agama yang syumul itu merangkumi segenap aspek kehidupan dan cara hidup manusia yang lengkap, namun solat adalah perkara asas dalam ajaran agama itu yang perlu dikerjakan dengan sempurna. Dan sama ada ibadat kita diterima atau tidak, hanya Allah sahaja yang mengetahui namun Rasulullah telah menunjukkan cara-cara bagaimana setiap amalan itu dapat diterima oleh Allah sekiranya dilakukan mengikut sunah Rasulullah, dan solat berjemaah adalah salah satu sunah Baginda.

Sebagaimana yang dinyatakan oleh Abdullah Ibnu Mas'ud: Rasulullah mengajarkan kami jalan-jalan petunjuk (sunanul huda) dan di antara jalan-jalan hidayah itu ialah mengerjakan solat berjemaah di masjid yang dilaungkan azan. (Riwayat Imam Muslim, Abu Daud, Nasai dan Ibnu Majah).

-dipetik dari Bicara Agama-Utusan Malaysia Online 4Jun 2007

http://tokasid.blogspot.com/2008/03/tazkirah-jumaatsolat-fardhu-lebih-baik.html

Persoalan Agama: Kenikmatan syurga tidak mampu digambar manusia

Oleh Ustaz Zahazan Mohamed
2010/05/23

LELAKI yang soleh akan hidup selamanya dalam syurga bersama bidadari dan isteri yang dinikahinya ketika hidup di dunia. Wanita yang tidak pernah berkahwin ketika hayatnya di dunia pula akan disandingkan dengan lelaki ahli syurga dengan segala kepuasan dan keredaan hati. Pertanyaan saya, adakah lelaki boleh hidup bersama wanita yang gagal dijadikan isterinya ketika di dunia biarpun wanita itu sudah menjadi isteri lelaki lain ketika di dunia?

Hamba Allah SYURGA adalah perkara ghaib yang wajib diimani. Manusia tidak mampu menggambarkan keadaan sebenar syurga. Syurga adalah kemuncak nikmat yang kekal abadi. Sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, daripada Rasulullah SAW bersabda: Allah SWT berfirman: “Aku sudah menyediakan buat hamba-hamba-Ku yang soleh sesuatu yang belum pernah terlihat oleh mata (keindahannya), tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas dalam hati seseorang. Cubalah kamu baca (dalam surah Sajdah ayat 17 yang bermaksud): Maka tidak ada seorang pun yang mengetahui satu persatu persediaan yang telah dirahsiakan untuk mereka (daripada segala jenis nikmat) yang amat indah dipandang dan menggembirakan, sebagai balasan bagi amal-amal soleh yang mereka telah kerjakan (sewaktu di dunia).”

Semua yang kita hajati dan disangka besar di dunia dulu sehingga perkara yang dirasakan mustahil, adalah kecil sebenarnya apabila memperoleh syurga Allah SWT. Segala yang terlintas di fikiran kita, nescaya Allah SWT akan tunaikan.
Dalam surah Ali Imran ayat 14, Allah SWT berfirman yang bermaksud: “Dihiaskan (dan dijadikan indah) kepada manusia kesukaan kepada benda-benda yang diingini nafsu, iaitu perempuan dan anak pinak, harta benda yang banyak berpikul-pikul daripada emas dan perak, kuda peliharaan yang bertanda lagi terlatih dan binatang ternak serta kebun tanaman.

Semua itu kesenangan hidup di dunia. Dan (ingatlah) pada sisi Allah SWT ada tempat kembali yang sebaik-baiknya (iaitu syurga). Katakanlah (wahai Muhammad), mahukah supaya aku khabar kepada kamu akan yang lebih baik daripada semuanya itu? Iaitu bagi orang yang bertakwa disediakan di sisi Tuhan mereka beberapa syurga, yang mengalir di bawahnya sungai, mereka kekal di dalamnya. Disediakan juga pasangan yang suci bersih, serta beroleh keredaan daripada Allah SWT. Dan (ingatlah), Allah SWT sentiasa melihat akan hamba-hamba-Nya.”
Sebuah hadis daripada al-Mughirah bin Syu’bah daripada Rasulullah SAW bersabda: Nabi Musa bertanya kepada Tuhan: “Bagaimanakah serendah-rendah tingkatan ahli syurga?” Tuhan menjawab: “Iaitu seseorang lelaki yang datang sesudah semua ahli syurga dimasukkan ke dalam syurga, kemudian diperintahkan kepadanya: Masuklah kamu ke dalam syurga.”

Lelaki itu berkata: “Wahai Tuhan, bagaimana hendak masuk, sedangkan manusia semuanya sudah mengambil tempat mereka masing-masing dan sudah memperoleh bahagian mereka?” Allah berfirman: “Puaskah kamu kalau kamu diberi seluas kerajaan seorang raja di dunia?” Lelaki itu menjawab: “Wahai Tuhan, saya puas.”
Tuhan berfirman lagi: “Bagimu seluas itu dan ditambah lagi sepertinya, ditambah lagi sepertinya dan tambah lagi sepertinya, ditambah lagi sepertinya.” Ketika Tuhan berkata yang kelima kalinya, lelaki itu berkata: “Wahai Tuhan, saya puas.” Tuhan berfirman: “Inilah bagimu dan 10 kali daripada itu dan segala yang disenangi nafsu dan matamu.” Lelaki itu berkata: “Wahai Tuhan, saya puas.”

Sebuah hadis riwayat Muslim daripada Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya serendah-rendah salah seorang daripada kamu dalam syurga iaitu dikatakan kepadanya: Sebutkanlah keinginanmu? Lalu ia menyebutkan keinginanmu. Maka ia menyebutkan keinginannya dan menghitung-hitung keinginannya.” Kemudian ditanya kepadanya: “Apakah kamu sudah menyebutkan semua keinginanmu?” Dia menjawab: “Ya, sudah.” Kemudian dikatakan kepadanya: “Sesungguhnya bagimu apa yang kamu inginkan dan ditambah lagi sepadan dengannya.”

Allah SWT juga mencabut perasaan hasad dengki yang sering menjadi punca permusuhan di kalangan manusia dan jin sebagai mana firman-Nya dalam surah al-Araf ayat 43 yang bermaksud: “Dan Kami cabutkan segala perasaan dendam dan hasad dengki dari hati mereka, (di dalam syurga) yang mengalir beberapa sungai.”

Begitu juga firman-Nya dalam surah al-Hijr ayat 46 dan 47: “(Mereka disambut oleh malaikat dengan berkata) : Silakan masuk ke dalam (syurga) dengan selamat sejahtera serta beroleh aman. Dan Kami cabut akan apa yang ada di hati mereka daripada perasaan hasad dengki sehingga jadilah mereka bersaudara (dalam suasana kasih mesra), serta mereka duduk berhadapan di atas pelamin masing-masing.”
Wallahualam.

Jumaat, 21 Mei 2010

KISAH BIAWAK YANG BERIMAN

Diriwayatkan oleh Ibn Kathir dalam kitab Al-Bidayatu Wan-Nihayah bahawa Baihaqi menceritakan dari Abi Mansur Ahmad bin Ali Ad-Damghaniy dari daerah Namin di Baihaq,dalam sebuah kisah yang disampaikan dari Umar R.anhu.

"RasuluLlah sedang berjalan bersama dengan sekumpulan para sahabat,tiba-tiba datang seorang arab badwi dari Bani Sulaim kehadapan Rasulullah. Beliau membawa bersamanya seekor biawak padang pasir (dhab) yang ditangkapnya dan bercadang untuk membakar haiwan itu untuk dimakan.

Melihat ramai yang berjalan itu,beliau tertarik untuk mendekati dan bertanya siapakah gerangan yang sedang mereka iringi. Apabila diberitahu bahawa mereka sedang mengiringi Nabi maka dia terus mendekati Nabi lantas berkata "Demi tuhan Lata dan Uzza,tiadalah sesuatu yang terdapat di alam ini yang lebih kubenci daripadamu wahai Muhammad! Kalaulah tidak kerana kaumku memanggilku dengan panggilan yang tergesa-gesa,tentulah aku sudah memenggal kepalamu lalu aku dapat menggembirakan hatiku dan hati semua manusia yang berkulit hitam,putih dan merah serta selainnya.!”

Umar Al-Khattab menjadi marah,lalu bangkit dan berkata “Wahai Nabi! Biarlah saya mengakhiri hidupnya!”

Nabi SAW tenang menjawab permintaan Umar: “Wahai Umar! Tidakkah negkau tahu bahawa orang yang lemah lembut itu hampir diangkat menjadi Nabi?”

Nabi kemudiannya berkata kepada arab badwi itu “Apa yang menyebabkan engkau berkata demikian? Sepatutnya engkau menghormatiku dalam perhimpunan bersama sahabatku!”

Arab badwi tersebut tidak mengalah bahkan sebaliknya berkata “Demi tuhan Lata dan Uzza! Aku takkan beriman kepadamu hai Muhammad hinggalah biawak ini beriman kepadamu, “ katanya sambil mengeluarkan biawak itu lalu melemparkannya kehadapan Nabi SAW.

Nabi SAW memanggil biawak itu. Kedengaran biawak itu menjawab dengan bahasa arab yang fasih dan difahami oleh semua yang hadir “Ya wahai Nabi SAW.”

Nabi bertanya “Kepada siapakah engkau beriman?”. Jawab biawak itu “Saya beriman kepada tuhan yang dilangit itu a’rasynya,dibumi itulah kekuasaannya,dan dilautan itulah jalannya dan disyurga itu rahmatnya dan dalam neraka itu azabnya1”

Tanya Nabi lagi “aku ini siapa wahai biawak?”. Jawab si biawak “Tuan adalah utusan Allah,yang memiliki sekelian alam! Amatlah beruntung orang yang mendokong perjuangan tuan,dan binasalah orang yang mendustakan tuan!”

Mendengar kata-kata biawak itu,arab badwi itu lantas berkata “Wahai Muhammad! Sebelum ini engkau merupakan orang yang paling aku benci,tetapi hari ini engkau adalah orang yang paling aku kasihi berbanding dengan bapaku, diriku sendiri,engkau amatku kasihi zahirku dan batinku.” Kemudian beliau mengucapkan kalimah syahadah dihadapan semua yang hadir.

Ulasan : Pengajaran yang boleh diambil dalam kisah ini ialah bagaimana seekor biawak (dhob) telah beriman kepada Allah SWT.bahkan menyokong perjuangan Nabi SAW. Sedangkan manusia yang telah dianugrahkan aqal masih lagi ramai yang tidak beriman kepada Allah SWT. Bahkan masih ramai yang menidakkan perjuangan untuk mendaulatkan syariat islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Sekurang-kurangnya malulah wahai manusia yang menolak dan mendustakan perjuangan Rasulullah dengan seekor binatang yang bernama biawak ini.

( Kisah ini diceduk dalam majalah Solusi bilangan 1,yang bertajuk "kerana rezeki, masuk neraka!..)

KHUTBAH JUMAAT 21 MEI 2010

Sidang Jumaat Sekelian

Akhbar Harian Metro bertarikh 17 Mei 2010 melaporkan kejadian di KUALA TERENGGANU - Seorang bayi lelaki baru dilahirkan dikhuatiri menjadi mangsa ratahan binatang buas selepas bayi malang itu dibuang ibunya yang cuba menyembunyikan kelahirannya dengan mencampakkan anaknya ke dalam semak di belakang rumah, di Ketengah Jaya, Dungun Jumaat lalu.

Bernama melaporkan pada 14 Mei 2010 di SUNGAI PETANI: Seorang bayi lelaki yang dipercayai baru dilahirkan ditemui di Masjid Al-Makmor, Sungai lalang pada kira-kira pukul 5.20 pagi.

Pada 18 Mei 2010 Seorang remaja berusia 15 tahun dari Durian Tunggal, Alor Gajah dan teman lelakinya, Muhammad Safiuddin Mohd. Zahari, 19, dari Taman Melaka Baru mengaku bersalah secara bersama-sama menyembunyikan kelahiran seorang bayi lelaki dan mengebumikannya di tepi sebatang sungai dekat Taman Melaka Baru, Batu Berendam pada 12 Mei 2010.

Utusan Malaysia bertarikh 6 Mei 2010 melaporkan penemuan mayat bayi baru lahir ditemui hanyut di Sungai Klang berhampiran Kampung Bukit Lancung, Puchong. Penemuan mayat bayi lelaki yang masih bertali pusat dan berkeadaan bogel itu menyusul selang dua hari selepas kes seorang bayi lelaki ditemui ditinggalkan di sebuah pondok berhampiran Surau Umudiah, Kampung Batu 29, Jenderam Hulu di Sepang.

Kuching 6 Mac 2010 - Mayat seorang bayi perempuan ditemui dalam sebatang longkang dalam keadaan menyedihkan kerana masih mempunyai tali pusat serta kesan darah pada badannya.Bayi malang itu ditemui pada pukul 2.45 petang di kawasan berdekatan Pasar Stutong di sini oleh dua kanak-kanak berusia 13 tahun yang kebetulan bermain di situ.

Daripada berita-berita yang kita dengar ini memang benarlah Sabda Nabi s.a.w: Dari ‘Adiy bin Hatim r.a mengatakan: Ma’ruf (kebaikan) yang kamu kenali sekarang adalah merupakan munkar (kejahatan) yang dikenali pada zaman dahulu. Dan mungkar yang kamu kenali sekarang akan menjadi ma’ruf pada masa akan dating. Sesungguhnya kamu sentiasa baik selagi kamu mengetahui perkara yang kamu ingkari. Dan kamu tidak akan ingkari perkara yang kamu tidak tahu dan selagi ada seorang yang ‘alim dikalangan kamu memperkatakan sesuatu dengan jelas dan dia dihormati (tidak direndah-rendahkan). (Ibnu ‘Asakir)

Sidang Jumaat Sekelian

Bagaikan bermusim, gejala buang bayi kini seperti tiada penghujungnya. Ada yang dihanyutkan ke sungai, dibakar, disumbat ke dalam lubang tandas, dibuang ke longkang dan dicampak ke tempat pembuangan sampah.Semuanya ini menimbulkan persoalan bilakah episod kejam itu akan berakhir. Sesungguhnya mencegah itu lebih baik daripada mengubat. Menutup jalan maksiat itu lebih baik daripada merawat penyakit yang timbul akibat daripada gejala maksiat yang berlaku.

Firman Allah dalam Surah Al-Israa’ ayat 32 yang bermaksud:
“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”.

Firman Allah lagi dalam surah An-Nur ayat 30 yang bermaksud:-
“Katalah kepada laki-laki yang beriman: “hendaklah mereka menahan pandangan dan memelihara kehormatan mereka yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat.”
Firman Allah lagi dalam surah An-Nur ayat 31 yang bermaksud:-
“Dan katalah kepada perempuan-perempuan yang beriman: “hendaklah mereka menahan pandangan dan memelihara kehormatana mereka dan jangan mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahirnya dan hendaklah mereka menutup belahan leher baju nya dengan tudung kepala mereka…”

SIDANG JUMAAT YANG BERBAHAGIA,

Ketiga-tiga ayat di atas merupakan di antara perintah-perintah pencegahan yang turunkan oleh Allah swt sebagai pencipta manusia bagi mencegah manusia daripada penzinaan yang seterusnya membawa kepada kemusnahan hidup di dunia. Sebelum ini kita sering memperkatakan permasalah seks bebas, pergaulan bebas, minum arak, penagihan dadah, bohsia, bohjan, mat rempit, sumbang mahram , rogol, pencabulan, penderaan anak-anak, keganasan rumah tangga, dan pelbagai lagi permasalahan masyarakat . Kini kita dikejutkan pula dengan permasalahan pembuangan bayi. Walaupun kes ini sudah lama berlaku namun kebelakangan ini semakin berleluasa sehingga melangkaui daripada norma-norma kemanusiaan yang tidak dapat diterima akal ianya boleh terjadi di dalam masyakat Malaysia yang terkenal dengan nilai-nilai ketimuran dan ajaran Islam yang menjadi pegangan .

Dalam Persidangan Kependudukan Kebangsaan 2007 satu kajian di Lembah Klang mendapati seorang bayi dibuang setiap 10 hari dan yang lebih membimbangkan kejadian ini tidak hanya berlaku di bandar-bandar besar sebaliknya semakin menular di desa dan luar bandar. Ini jelas terbukti apabila sejak akhir-akhir ini kes-kes pembuangan bayi dilaporkan berlaku di luar bandar. Menurut Timbalan Pembangunan Wanita, Keluarga dan Masyarakat, Noriah Kasnon sebanyak 304 kes buang bayi telah dilaporkan antara tahun 2004 hingga 2007 yang membabitkan 117 bayi lelaki, 96 bayi perempuan manakala bakinya tidak diketahui jantina kerana mayat reput. Menurut Statistik Ibu Pejabat Bukit Aman pula sejumlah 50 kes buang bayi dicatatkan sepanjang Januari hingga September 2008 dengan pasangan melayu mencatat jumlah tertinggi iaitu 36%. Statistik-statistik ini jelas menunjukkan betapa nazak dan dahsyatnya permasalahan buang bayi yang melanda masyarakat kita saban hari, masa dan ketika yang semakin bertambah.dari hari ke sehari tanpa menunjukkan kadar penurunan.
SIDANG JUMAAT YANG BERBAHAGIA,

"Akhbar hari Jumaat 12 Feb 2010 melaporkan isteri PM dan Shahrizat Jalil menyuarakan kebimbangan kes buang bayi yang cukup ketara. Ia bukan kes baru, tetapi kenapa baru bersuara dan baru terperasan. Almarhum Ustaz Fadhil Nor pernah menyebutkan kebimbangannya dengan statistik kelahiran anak luar nikah dalam Parlimen, tetapi ia berlalu begitu sahaja. Kesungguhan kerajaan terhadap isu ini hampir tidak dapat dilihat. Kita boleh mendengar semua ucapan pemimpin-pemimpin pada hari ini samada di dalam akhbar, televisyen, musim pilihanraya dan sebagainya hanyalah tertumpu pada hal ehwal pembangunan, ekonomi, pelaburan, pelancongan, projek dan kepartian. Isu kemanusiaan seperti pembuangan bayi, penzinaan dan seumpamanya ini yang memberikan kesan jangka panjang kepada negara tidak dihiraukan dan tidak dipedulikan sangat.

KENAPA MASALAH PEMBUANGAN BAYI DAN MUNGKAR-MUNGKAR INI TERJADI?

Kejadian buang bayi berlaku kerana umat Islam hari ini telah membuang syariat Allah swt didalam kehidupan. Kita telah membuang syariat berkahwin, syariat bersosial, syariat berpakaian, syariat berhibur, syariat pergaulan, syariat berkeluarga, syariat mendidik anak, syariat mendidik rakyat, syariat mentadbir negara, syariat memimpin dan syariat dalam hukuman dan undang-undang. Kita menggunakan dan mengamalkan cara hidup Barat, cara hidup sekular, cara hidup, syaitan, cara hidup yang bertentangan dengan kehendak Allah swt dalam semua aspek. Kita menjadi lebih Barat daripada orang Barat, kita menjadi lebih sekular daripada sekular, kita menjadi lebih syaitan daripada syaitan. Dalam bentuknya yang besar, hukum hudud diketepikan. Hukum zina muhsan dan zina bukan muhsan iaitu rejam sehingga mati dan sebat seratus rotan dianggap tidak relevan untuk dunia moden kononnya. Tetapi sistem kewangan Islam boleh pula diterima. Tidak pula dikatakan tidak relevan. Kita mengambil hokum Allah yang kita rasa menguntungkan kita dan pada masa yang sama kita menolak hokum Allah yang kita rasa tidak sesuai dengan selera kehidupan kita.

Dalam bentuknya secara peribadi, si gadis yang berpeleseran dengan pasangannya itu yang membuang syariat. Valentine Day, Sambutan Tahun Baru, Sambutan Kemerdekaan, sambuatan sempena konsert tertentu dijadikan musim-musim mengawan, yang kemudiannya nafsu serakah itu menghasilkan bayi tanpa akad nikah sah. Maka lahirlah warganegara baru Malaysia yang entah apa akan jadi kepadanya nanti. Dalam institusi keluarga, syariat juga dibuang. Ayah tidak mampu, tidak berani, bacul, dayus untuk menegur si anak perempuan yang asyik keluar dengan teman lelaki samada malam atau siang hari. Ayah hanya pentingkan kerjayanya sahaja. Si ibu pun demikian. Bahkan membiarkan pergaulan bebas itu dianggap bertamadun. Yang tidak bersosial dan berpeleseran itu katanya kolot atau konservatif. Agama untuk mendidik dan menjadi benteng tidak dikisahkan dan tidak dipedulikan bahkan ada yg menganggap agama itu mengongkong peribadi seseorang.

Dalam masyarakat, syariat juga dibuang. Perintah Allah supaya jangan dekati zina tidak dihiraukan. Program tv menggalakkan zina secara halus, media, pesta, disko, pub, pelancung yang dibiar jadi pelacur, cd dan web lucah dibiarkan subur. Program2 maksiat disubur dan dimakmurkan, program2 agama dikenakan sekatan2 dan peraturan2 serta ancaman2 kepada yang menganjurkannya. Kalaupun ada tindakan hanya melepas batuk di tangga. Pihak penguatkuasa dan pihak Kerajaan tidak bersungguh terhadap majalah lucah dan semi-lucah di pasaran. Laman porno mudah dilayari di Malaysia, tapi bila ada satu dua laman web yang sedikit menyiku kerajaan terus diambil tindakan.

Inilah bahana dan hasil bila kita mengamalkan cara hidup, cara berkeluarga dan cara bernegara yang berpandukan akal dan nafsu dengan menolak hukum, peraturan dan undang2 yang telah sedia ada dalam Islam yang termaktub didalam al-Quran dan Sunnah Nabi s.a.w. Statistik kelahiran bayi luar nikah dan kes buang bayi makin menakutkan. Sistem yang kita dokong dan perjuangkan selama lebih 50 tahun adalah sistem yang membuang syariat. Justru tidak pelik kes buang bayi meningkat dan kes-kes baru semakin berleluasa dan bermaharajagila saban hari..

SIDANG JUMAAT YANG BERBAHAGIA,

Pelbagai saranan dan cadangan telah diutarakan oleh pelbagai pihak untuk mencari jalan penyelesaian bagi mengatasi dan menangani permasalahan ini yang jelas bertentangan nilai-nilai yang ada dalam Islam khasnya dan norma-norma kemanusiaan sejagat amnya. Di antara cadangan bodoh itu ialah menubuhkan pusat menerima bayi daripada perbuatan zina, menyediakan rumah perlindungan perempuan mengandung tanpa ikatan perkahwinan dan memberi pendidikan seks kepada pelaja-pelajar. Timbul persoalan di sini sejauhmanakah penyelesaian yang dicadangkan mampu membasmi gejala buang bayi secara total. Cadangan ini bukan untuk mencegah tetapi lebih menggalakkan aktiviti seks bebas dan memakmurkan kemungkaran tersebut.

Berdasarkan statistik Jabatan Pendaftaran Negara sekitar tahun 2000 hingga 2008 terdapat 257,000 kanak-kanak yang didaftarkan tidak mempunyai nama bapa dan yang lebih menyedihkan lagi apabila bagi tahun 1999 hingga 2003 sahaja, 44% anak yang tidak mempunyai nama bapa adalah anak orang Islam iaitu 30,978 daripada 70,430 kanak-kanak yang didaftarkan. Cuba bayangkan dalam keadaan cadangan-cadangan penyelesaian di atas belum dilaksanakan sepenuhnya telah wujud 257,000 kanak-kanak yang didaftarkan tanpa nama bapa apatah lagi sekiranya cadangan penyelesaian di atas dilaksanakan sepenuhnya, pasti jumlahnya akan menjadi semakin berlipat kali ganda yang seterusnya akan membawa kepada permasalahan yang lain.

Mimbar amat tertarik dengan saranan Timbalan Dekan Institut Pemikiran dan Ketamadunan Islam Universiti Antarabangsa Malaysia (UIAM) Profesor Datuk Dr Mahmood Zuhdi Abdul Majid yang mengatakan “ Jika semua pihak terutamanya kerajaan serius dalam menangani isu pembuangan bayi yang saban hari dilaporkan, tumpuan perlu diberi kepada usaha membersihkan masyarakat daripada sumber-sumber yang mendedahkan mereka kepada faktor yang merosakan nilai murni.” Satu usaha yang bersepadu haruslah diambil secepat mungkin oleh semua agensi kerajaan termasuk NGO bagi memastikan segala punca kepada masalah pembuangan bayi dapat dikenalpasti dan dihapuskan daripada terus mencengkam masyarakat.

Firman Allah dalm Surah Al-Anfal ayat 20-22 yang bermaksud:-

“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasulnya dan janganlah kamu berpaling daripadanya, sedang kamu mendengar (perintah-perintahnya dan janganlah kamu menjadi sebagai orang munafik yang berkata “Kami mendegar , pada hal mereka tidak mendengar. Sesungguhnya makhluk bergerak yang bernyawa yang paling buruk disisi Allah ialah orang yang pekak dan tuli ( tidak mendengar atau memahami kebenaran iaitu orang-orang yang tidak mengerti.)

Perlakuan seks bebas, pergaulan bebas, minum arak, penagihan dadah, bohsia, bohjan, mat rempit, sumbang mahram , rogol, pencabulan dan pelbagai lagi permasalahan yang melanda masyarakat wajar dibenteras secara bersepadu dengan berpandukan kepada panduan ilahi bukan hanya berlandaskan akal semata-mata dan penyelesaian jangka pendek yang hanya mengundang masalah selanjutnya yang tidak berkesudahan. Masalah pembuangan bayi merupakan salah satu natijah buruk yang terhasil akibat daripada pelbagai masalah masyarakat yang melanda.dan kini telah menjadi barah yang semakin merebak di dalam masyarakat kita.
Justeru itu cara yang sewajarnya bagi menangani permasalahan buang bayi adalah membenteras segala punca yang menjadi sebab kepada permasalahan ini. Kepincangan pendidikan, persekitaran, perundangan dan institusi keluarga harus diperbetulkan demi melahirkan masyarakat yang mempunyai nilai-nilai murni yang membawa kepada terlahirnya generasi muda yang mempunyai daya tahan yang tinggi bagi menghadapi pelbagai cabaran yang mendatang di zaman yang serba canggih dan moden ini.

Sewajarnya kita semua termasuklah ibubapa, masyarakat, pihak kerajaan kembali kepada system Islam yang sebenar dengan melaksanakan undang-undang syariah Islam yang sebenar di dalam Negara Malaysia kepada pesalah-pesalah zina dan golongan yang membuang bayi ini. Di samping menutup kelab2 malam, pub, disko, pesta2 maksiat, mengharamkan konsert2 yang menyebabkan pergaulan bebas, menghapuskan cara sambutan hari2 kebesaran Negara yang penuh dengan maksiat diganti dengan aktiviti2 keagamaan dan kerohanian. Mengawal perjalanan program TV, menghentikan program2 realiti TV yg banyak menyumbang kepada perzinaan serta pergaulan bebas, mengawal majalah2 serta VCD/DVD lucah di pasaran serta di internet, memperbanyakkan program2 keagamaan, kesenian dan kebudayaan Islam serta berusaha memahamkan seluruh umat Islam khususnya di Malaysia mengenai cara hidup Islam yang sebenar sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah swt. Apabila hukum, peraturan dan undang2 Allah menaungi dan mengawal manusia maka lahirlah pemimpin yang taat kepada Allah, masyarakat yang taat kepada Allah, Ibubapa yang taat kepada Allah, anak2 yang taat kepada Allah dan seluruh rakyat taat kepada Allah maka hasilnya tiada lagi kemungkaran dan kemaksiatan, yang ada hanyalah ketenangan, kebahagiaan dan kemakmuran hidup dibawah lembayung rahmat Allah swt. Sabda Rasulullah saw:

عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ حَبْلُ اللَّهِ مَنْ اتَّبَعَهُ كَانَ عَلَى الْهُدَى وَمَنْ تَرَكَهُ كَانَ عَلَى ضَلَالَةٍ. (مسلم

Dari Zaid bin Arqam, r.a. katanya: Bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: "Kitab Allah Azza wa Jalla ialah tali Allah (sebab yang membawa kepada rahmat Allah), sesiapa yang menurutnya: Beradalah ia dalam hidayat pertunjuk yang sebenar-benarnya dan (sebaliknya) sesiapa yang meninggalkannya: Beradalah ia dalam kesesatan. " (Muslim)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ. (الإمام مالك

Dari Abu Hurairah, r.a., dari Nabi s.a.w., bahawa Baginda bersabda: "Aku tinggalkan dalam kalangan kamu dua perkara yang kamu tidak sekali-kali akan sesat selagi kamu berpegang teguh kepada keduanya, iaitu kitab Allah dan sunnah Rasulullah," (s.a.w.).

Barakallahuli walakum…