Khamis, 13 Oktober 2011

Sunnah Rasul SAW Berasal dari Tiga Sumber



Dipetik dari blog: http://secangkirhikmah.com/
Penulis Asal: Muhammad Abdulloh Suradi

Sunnah Rasul SAW. berasal dari tiga sumber, iaitu perkataan, perbuatan, dan keadaan beliau. Tiga sumber ini juga terbagi lagi menjadi tiga, yaitu: wajib, sunnah, dan adat yang merupakan kebiasaan beliau. Hal yang wajib tentu saja harus diikuti. Jika ditinggalkan mengakibatkan azab dan hukuman. Sementara as-Sunnah yang bersifat sunnah juga dibebankan kepada kaum yang mukmin dengan melihat pada sejauh mana ia dianjurkan. Memang meninggalkan as-Sunnah yang bersifat sunnah tidak menyebabkan dosa. Hanya saja jika dikerjakan dan diikuti akan menghasilkan pahala yang besar. Mengubah dan mengganti sesuatu yang sunnah jelas merupakan perbuatan bid’ah, serta termasuk kesesatan dan kesalahan besar.

Selanjutnya setiap kebiasaan, gerakan, dan diamnya Rasul SAW. termasuk hal yang sangat baik untuk ditiru. Sebab pada semua itu terdapat hikmah dan manfaat yang besar, baik bagi kehidupan pribadi maupun sosial. Selain itu, tindakan yang mengikuti sunnah beliau akan mengubah adab dan kebiasaan menjadi bernilai ibadah. Ya, beliau memang memiliki akhlak paling mulia, seperti disepakati oleh baik sahabat maupun musuhnya. Beliau merupakan sosok pilihan di antara seluruh anak manusia selain sebagai pribadi paling dikenal semua orang. Beliau juga merupakan pribadi paling sempurna, bahkan teladan dan pembimbing paling utuh dengan melihat pada ribuan mukjizat yang ada, kesaksian dunia Islam, dan kesempurnaan pribadinya yang didukung oleh hakikat al-Quran yang sampai padanya. Jutaan orang-orang mulia bisa menapaki derajat kesempurnaan dan ketinggian berkat sikap mengikuti beliau hingga akhirnya mereka mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat. Jika demikian, tentulah sunnah Nabi SAW. dan semua tingkah lakunya adalah contoh yang paling utama untuk diikuti, petunjuk yang paling sempurna untuk diteladani, hukum yang paling sesuai dan aturan yang paling agung untuk dijadikan landasan hidup seorang mukmin.

Orang yang bahagia adalah yang paling intens mengikuti sunah Nabi SAW. Sementara orang yang tidak mengikuti as-Sunnah akan benar-benar merugi jika sikap untuk tidak mengikuti tadi bersumber dari kemalasan. Selanjutnya ia akan melakukan kriminal jika tindakannya itu bersumber dari ketidakpedulian, serta akan tercampak dalam kesesatan yang nyata jika disertai dengan kritik yang mengandung pengingkaran terhadap as-Sunnah tersebut.

Persoalan Kedua

Dalam al-Qur’an, Allah Ta’ala menggambarkan sifat Rasul SAW. dengan firman-Nya:
Sesungguhnya Kamu benar-benar memiliki budi pekerti yang agung. (al-Qalam [68]: 4)

Sementara para sahabat yang mulia menggambarkan beliau seperti yang dinyatakan oleh Aisyah ra., “Akhlak beliau adalah al-Quran”*. Maksudnya, Muhammad SAW. merupakan contoh ideal dari akhlak terpuji yang dipaparkan oleh al-Qur’an. Beliau adalah sosok terbaik yang mencerminkan semua akhlak mulia tersebut. Bahkan secara fitrah, beliau memang telah tercipta di atas kemuliaan itu. Karena setiap perbuatan, ucapan, keadaan, dan tingkah laku Nabi SAW. seharusnya menjadi teladan bagi umat manusia, maka alangkah malang umatnya yang beriman ketika mereka melalaikan sunnah beliau. Mereka tidak mempedulikan atau bahkan menggantikan dengan yang lain. Betapa malang dan menderitanya mereka itu.

* Potongan dari hadis Aisyah ra. Ia ditakhrij oleh Imam Muslim 746, Ahmad 2: 54, 91, 163, Abu Daud 1342,’an-Nasa’i 3: 199, serta ad-Darimi.

Dipetik dari al-Lamaat, koleksi dari Risalah Nur karya agung Badiuzzaman Said Nursi

Tiada ulasan:

Catat Ulasan